Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Juli 2011

Rindu padamu.. duhai kekasihku..

Hening. Khusyuk. Semua jamaah hanyut dalam keheningan dan kekhusyu’an di belakang Rasulullah saw yang bertindak sebagai imam sholat isya’ malam itu. Salah satu jama’ah terlihat meneteskan air mata membasahi pipi kiri dan kanannya. Suasana terlampau syahdu. Bacaan menghujam dan merasuk ke dalam hati yang paling dalam. Salah satu Jamaah tersebut semakin tertunduk hanyut dalam kekhusyu’an. Hingga tiba – tiba secara tidak sadar ia terjatuh.
Gedubrak..
“Ah.. ternyata hanya mimpi”. Doni jatuh dari tempat tidurnya akibat mimpi aneh itu. Ia sempat tertegun agak lama, menyelam ke alam pikiran memikirkan mimpi tersebut. Ia melihat jam, masih menunjukkan jam 01.00, artinya waktu tidur dan merayakan alam mimpi masih panjang. Ia pun melanjutkan tidurnya di tengah udara dingin yang menyelimuti malam.
Bagi sebagian besar orang islam, mimpi bertemu Rasulullah saw mungkin menjadi sesuatu mimpi yang diimpikan sebagai bentuk rasa rindu dan kecintaannya. Tapi tidak bagi Doni. Doni lahir dari keluarga kaya yang hampir tidak pernah diajarkan tentang agama dengan baik. Tidak pernah dikenalkan dengan Rasulullah saw secara mendalam apalagi sampai merindukan dan mencintainya. Dan inilah yang dirasa aneh oleh Doni. Rasulullah yang selama ini tidak pernah ada di pikirannya, kenapa bisa sampai terbawa mimpi. Ditambah lagi mimpinya adalah sholat, sesuatu yang hamper tidak pernah ia lakukan.
Mimpi itu sungguh sangat berpengaruh bagi perilaku Doni akhir – akhir ini. Ia menjadi sering merenung. Duduk sendiri. Bahkan kini ia sering ke perpustakaan hanya untuk menyendiri. Perilaku Doni yang aneh ini membuat gempar seisi kampus. Selama ini, Doni dikenal oleh hampir seluruh mahasiswa di fakultasnya, terutama di jurusannya. Bukan karena prestasinya, bukan karena kegantengannya atau karena dia kaya, tapi karena kenakalan dan ulah – ulahnya yang sering membuat onar. Perubahan sikap Doni ini menjadi buah bibir layaknya berita gosip – gosip artis yang sering menghiasi hampir di setiap stasiun televisi. Banyak gosip yang berkembang, mulai dari diputus pacar sampai kesambet jin. Bagi Doni, gosip – gosip itu ditanggapi dengan cuek bebek, tidak dihiraukan sedikitpun. Perhatiannya lebih banyak tertuju pada mimpinya yang super aneh itu. Saking seriusnya otak dan fikirannya seolah tidak sanggup bekerja terlalu keras menuruti kemauan hatinya yang galau. Akhirnya iapun jatuh sakit. Badannya panas. Tubuhnya lemas. Ia hanya bisa berbaring tak berdaya di kamanya.
Sudah hampir 5 hari kampus tanpa Doni. Dosen dan mahasiswa di jurusannya sebagian besar merasa aman dan terbebas dari pengacau kampus, sebagian lagi merasa kashian dengan apa yang dialami oleh Doni akhir – akhir ini, terutama dari teman – teman kelas tingkatnya. Aku adalah salah satu teman kelas Doni. Hari itu aku berinisiatif untuk mengunjungi Doni di rumahnya.
Selepas pulang kuliah, jam 4 sore aku sudah berada di depan rumah Doni. Rumahnya begitu besar dan sangat jauh berbeda dengan kondisi rumahku yang terlampau sederhana. Ini pertama kalinya aku ke rumah Doni semenjak setahun aku mengenalnya.
“Assalamu’alaikum…” Aku memberi salam. Tiga kali aku mengucap salam namun belum ada yang menjawab. Ketika aku membalikkan badan berniat untuk pulang, tiba – tiba ada yang membuka pintu.
“Mencari siapa mas??” Seorang ibu bertanya dengan senyum yang sangat manis. Dari parasnya aku tahu kalau dia adalah ibu Doni.
“Mau bertemu Doni tante, saya teman kampusnya..”Jawabku dengan senyum yang tak kalah ramah.
Nampaknya sang ibu termenung sejenak sambil melihatku lebih dalam. Lebih lama. Sepertinya terheran. Tapi kenapa?
“Ada apa tante??” Tanyaku mencari tahu.
“Oh, ma’af. Ya silakan masuk. Doni ada di kamar. Langsung ke kamarnya aja.” Jawaban sang ibu makin membuatku penasaran dengan kelakuannya barusan. Ibu Doni menunjukkan kamar Doni yang berada di lantai 2. Sekali lagi, aku terkagum – kagum dengan rumah Doni yang sangat mewah bagiku.
“Don, ada temen kamu nih..” Kata ibunya di depan pintu.
“Suruh masuk ma..” Teriak Doni dari dalam kamar. Suaranya khas. Keras. Tegas. Ketika aku masuk, Doni terdiam sesaat, sama dengan kelakuan ibunya tadi. Hal itu tentu semakin membuatku penasaran.
“Gimana kabar lo Don, kampus sepi nggak ada lo..??” Kumulai dengan obrolan santai dan ringan.
“Bisa aja lo Rif, paling – paling di kampus sedang ada pesta besar.. pada bersyukur nggak ada gue, nggak ada yang bikin onar lagi kayak biasanya.” Ujar Doni dengan sedikit tersenyum. Yang jelas kali ini senyumnya beda dari biasanya.
“Sakit apa lo Don?? Gue kira lo nggak bisa sakit Don, eh, ternyata bisa sakit toh..” candaanku mencoba menghibur Doni.
“Enak aja lo Rif, emangnya gua apaan gak bias sakit. Gue kan manusia, ya wajarlah kalo bisa sakit. Normal donk…” jawabnya dengan setengah tertawa.
Walaupun kami tidak begitu akrab, suasana sore itu membuat kami seperti teman akrab. Jujur, sebelumnya aku sering dibuat jengkel dengan ulah Doni selama di kampus. Teman – teman seangkatan juga dibuat geram dengan keusilannya. Maka tidak heran jika teman – teman kelas banyak yang menjauhinya. Bukan Cuma teman sekelas, hampir semua mahasiswa di jurusan dan fakultas juga begitu. Aku lihat ia cuma berteman dengan geng anak – anak yang suka bikin onar di kampus, dan itu tidak banyak, hanya sekitar 5 – 10 orang saja.
“Terus terang, gue kaget lo dateng, selama gue sakit belum ada yang kemari jenguk gue, bahkan temen – temen geng gue. Lo yang pertama Rif..” kali ini ku lihat mata yang berkaca – kaca. Ini sejarah bagiku. Melihat Doni dengan mata yang berkaca – kaca. Sepertinya awan tangis mau runtuh dari mata Doni.
“Yang bener Don.. dapat hadiah donk..?? kan pengunjung pertama, hehehe” Tanyaku mencoba meyakinkan diri sendiri sambil bercanda pada Doni.
“heheh..Suer..!! Temen –temen gue tu nggak ada yang tulus berteman ama gue, mereka deket karena gua banyak duit.. giliran gue sakit, lo tahu sendiri kan? Pada kabur semua.” Curhat Doni yang belum pernah kudengar sebelumnya.
“Tahu gitu kenapa lo masih berteman ma orang – orang kayak gitu?”
“Gue kesepian Rif gak punya temen, dengan kelakukan gue kayak gini jelas nggak ada yang mau berteman akrab sama gue”.
“Siapa bilang, gue mau kok menjadi temen akrab lo Don!!”
“serius lo Rif??”
“Ya iyalah…”
Kaca – kaca dalam mata Doni kini pecah. Awan tangis pun runtuh. Mengalir. Megalir dengan deras menyirami pipinya dan membasahi hatiku sampai bergetar. Entah itu tanda sedih atau haru. Aku jadi paham sekarang, sikap ibu dan Doni barusan yang sepertinya heran dengan kedatanganku.Ternyata memang ini mengherankan, Ada teman Doni yang datang berkunjung ke rumahnya adalah sebuah sejarah yang mungkin jarang terulang. “Kasian lo Don, lo pasti kesepian selama ini”. Ujarku dalam hati.
“Oh iya Rif, gue mau cerita sesuatu, lo kan anak yang taat beragama, mungkin lo bisa bantu.” Ujar Doni yang membuat aku sedikit kaget, sekaligus tertarik untuk mendengarnya.
“Apaan itu Don??” tanyaku penasaran.
“Mungkin ini yang membuat gue sakit. Mungkin ini pula yang membuat tingkah gue terliat aneh di kampus. Sering terliat diem sama anak – anak. Suka menyendiri.” Doni memulai cerita dengan nada datar dan mengalir lembut.
“Wah, bener banget Don, gosipnya udah ngalahin gossip artis di tipi – tipi loh. Ada yang bilang kamu diputusin pacar. Ada yang bilang lo kesambet jin.” Terangku membenarkan.
“Gue nggak peduli dengan gossip – gossip itu,”
“Terus yang bener gimana? Gue penasaran juga nih Don..”
“Tapi janji jangan cerita sapa – sapa ya. Dan tolong bantu gue kalo lo mampu.”
Setelah itu Doni pun bercerita panjang lebar tentang apa yang dialaminya akhir – akhir ini. Terutama masalah mimpi aneh itu, mimpi bertemu Nabi Muhammad saw. Aku hanya menjadi pendengar setia, sesekali bertanya dan tersenyum membenarkan. Di akhir cerita, ia berharap besar aku bisa membantunya dan memberikan tafsir mimpi itu.
“Wah..hebat loe Don, jarang – jarang ada yang bisa ketemu Nabi dalam mimpi. Gue aja yang kepingin gak mimpi – mimpi, nah lo yang gak pingin malah mimpiin. Kalo masalah tafsir mimpi, gue nggak paham Don, gue kan bukan dukun.” Komentarku di akhir cerita sore itu.
“Itulah keanehannya Rif. Gue sempet berfikir, apa ini saatnya gue tobat ya..??”
“Bisa jadi begitu Rif..Wah bakalan tambah heboh kampus Rif..Gue dukung dan siap bantu deh!!” Aku mencoba memberi semangat.
“niat gue begitu Rif, Tapi jujur gue merasa belum siap, belum siap menghadapi respon orang tua gue, belum siap dengan respon temen – temen geng gue, dan belum siap dengan sikap lo semua di kampus. Gue belum bisa membayangkan Rif..”Kembali, air matanya mengalir.
“OK, saran gue, lo pelan – pelan aja. Semua butuh proses. Nggak perlu ada yang tahu dulu. Gue siap bantu lo buat belajar islam. Diem – diem dulu, nggak usah ada yang tahu. Nah setelah merasa mantap baru lah terserah lo...”
“Bener lo mau bantu gue? Gue ikuti saran lo Rif.”Jawabnya dengan mantap.
“OK kita bicarain ini nanti, lo istirahat and sembuhin diri dulu. Gue pamit aja dulu. Udah mau maghrib.”
“Loe mau sholat ya Rif??” Tanyanya.
“Iya. Itu kewajiban seorang muslim Don”.
“Rif, lo sholat disni ya, aku mau sholat bareng lo..sambil belajar sholat.” Minta Doni dengan penuh harap.
“OK Bro..” jawabku mantap.
“Tapi ntar bacanya jangan keras – keras ya..takut ketahuan mama”
“Beres, bisa diatur.”
Setelah itu aku ajari ia wudhu. Kemudian kami siap untuk sholat maghrib. Ia berdiri tepat di sebelah kananku sebagai makmum. Sekali lagi ini sejarah. Untuk pertama kalinya Doni Sholat, dan aku menjadi imamnya.
“Lo niat dalam hati sholat maghrib, setelah itu ikuti gerakan – gerakan gue dan simak dengan tenang bacaan – bacaan gue.” Terangku sebelum sholat di mulai.
Kamipun mulai sholat di kamar Doni dengan suara bacaan yang agak lirih, namun syahdu. Pelan, namun menghujam. Dalam sholat itu aku membaca surat Al Muzammil. Dengan tenang agar bisa merasuk dalam hati kami berdua. Tak kusangka, setelah sholat usai, ku melihat air mata Doni mengalir membasahi pipinya. Benar – benar sejarah yang tidak akan kulupakan. Mungkin demikian juga bagi Doni.
Setelah selama satu minggu tidak masuk kampus, akhirnya Doni kembali sembuh dan dapat masuk kuliah sepeti biasanya. Doni berangkat dengan wajah yang bebeda. Dengan perasaan yang berbeda. Terpancar kebahagiaan di wajahnya yang belum pernah kulihat sebelumnya. Namun kebanyakan mahasiswa menampakkan mimik yang bebeda. Seolah dalam hati mereka berujar, “wah, masalah datang lagi nih.” Aku memiliki proyek besar dalam beberapa pekan kedepan, yaitu melakukan rekayasa sosial dan politik pencitraan di kampus sehingga mengubah pandangan negatif pada Doni.
Petama yang aku dan Doni lakukan adalah mempunyai petemuan khusus dan rahasia dengan anggota Rohis (Kerohanian Islam) Kampus untuk memperdalam keIslaman setiap sepekan sekali. Kemudian secara rutin aku dan Doni juga terlibat diskusi yang serius dan rahaisa terkait masalah – masalah keIslaman. Intinya awal proyek besar ini adalah merubah pemikiran Doni. Karena yang aku pahami, merubah seseoang itu dimulai dari merubah pola pikir orang tersebut. Semua bejalan dengan penuh kerahasiaan. Yang tahu hanya Aku, Doni, dan beberapa teman – teman dari Rohis. Dalam kesehariannya, Doni juga masih melakukan kebiasaan – kebiasaannya seperti biasanya. Suka bolos pelajaran, usil, dan masih sering kumpul dengan gengnya. Semua by designed, kami tidak ingin melakukan perubahan kepribadian secara frontal dan revolusioner. Cepat dan menyeluruh sekaligus. Karena revolusi yang tak terpola dan tidak terencana dengan baik akan berresiko besar.
Kemudian di pekan – pekan beikutnya secara perlahan ia mulai menjauhi gengnya. Intensitas pertemuan mereka agak berkurang berhubung Doni yang saat ini jarang sekali bolos kuliah. Ia mulai disiplin dalam memperbaiki akademik. Ternyata Doni dasarnya adalah anak yang cedas, terutama matematika dan hitung – hitungan yang rumit itu. Memang di fakultas teknik banyak pehitungan – perhitungan matematika yang membuat mahasiswanya pusing dibuatnya. Bahkan di sebuah ujian mata kuliah matematika, ia mendapat nilai terbaik. Akhirnya pandangan teman – teman dan dosen pada Doni sedikit berubah. Ternyata dibalik kenakalannya, ia adalah mahasiswa yang cerdas. Begitulah kira – kira sangkaan sebagian mahasiswa padanya. Dari situ teman – teman jusannya mulai berani mendekat dan beteman, walau awalnya hanya sekedar menanyakan dan meminta bantuan mengerjakan soal matematika yang bagi sebagian besar di jurusan kami adalah momok, monster paling menakutkan, ditambah lagi dosennya yang killer. Akhirnya kabar tentang kecerdasan Doni ini cepat tersebar seantero fakultas.
Usaha Doni sepeti ini bukannya tanpa kendala dan tantangan. Gengnya yang mulai ditinggalkannya nampaknya mulai berulah karena mulai ditinggal oleh Doni. Lebih tepatnya ditinggal oleh pemasok dana geng tersebut. Awalnya hanya ajakan – ajakan biasa untuk sering – sering berkumpul dan melakukan hal – hal gila seperti biasanya. Karena tidak mendapat respon dari Doni, akhir – akhir ini Doni sering mendapat ancaman dari geng ini. Puncaknya adalah sebuah sore ketika ia pulang kuliah. Di sudut gedung perkuliahannya ia didatangi oleh segerombolan mahasiswa. Ia tahu mereka adalah mantan gengnya. Mereka datang dengan sorot mata yang tajam dan mimik yang menyeramkan. Tanpa basa – basi hujaman pukulan dan tendangan langsung mendarat di perut dan wajah Doni. Hingga ia tersungkur ke lantai. Hingga darahpun menetes dari mulutnya. “Ini akibat bagi penghianat..!!” Makian dari ketua geng tersebut.
Sementara Doni hanya bisa merintih. Tak ada perlawanan sedikitpun darinya karena memang tidak mungkin untuk melawan. Jumlah mereka terlalu banyak. Baru beberapa pekan masuk kuliah, ia harus kembali tergeletak tidak berdaya di rumahnya. Seperti waktu sakit dulu, aku berinisiatif untuk menjenguknya kembali. Namun kini aku tidak sendiri. Teman – teman kelas sebagian besar kuajak untuk ikut menjenguk. Kami sepakat sore setelah kuliah ini kami berkumpul dan berangkat bersama ke rumah Doni.
Sama seperti ketika pertama aku kesini, nampaknya kali ini Doni dan ibunya terheran – heran karena ada temannya yang menemuinya ketika sedang sakit. Kali ini tidak hanya satu orang, hampir sepuluh orang kami bersama – sama menjenguk Doni setelah peristiwa kemarin. Ketika teman – teman asyik ngobrol dengan Doni, aku sempatkan untuk ngobrol dengan ibunya. Dari penuturan sang ibu, kejadian ini sudah sangat sering menimpa Doni, jadi ia tidak kaget lagi. Sering sekali Doni pulang dengan babak belur akibat tawuran dan berantem. Justru yang membuat sang Ibu terkejut adalah kedatangan kami. Selama ini sangat jarang sekali, bahkan tidak pernah, ada teman Doni yang datang ke rumah, apalagi ketika sakit begini. Baru kami, kata sang ibu dengan mata yang berkaca – kaca.
Di kampus, informasi ini sengaja aku sebarkan dan aku besar – besarkan sehingga menjadi berita yang sudah menjadi konsumsi publik. Aku kesankan seolah – olah Doni sebagai pihak yang teraniaya karena melawan Gengnya. Akhirnya simpatipun berdatangan dari berbagai pihak, dari mahasiswa, sampai Dosen, bahkan pihak kampus berjanji untuk mengurus dan menyelesaikan kasus ini. Sepertinya rekayasa dan politik pencitraan ku sukses besar. Doni yang dulunya dikenal sebagai preman kampus pembuat onar, kini dikenal sebagai mahasiswa yang cerdas dan baik kelakuannya. Saat seperti ini adalah sudah saatnya untuk menunjukkan perubahan kepada semua pihak. Doni sudah tak canggung lagi untuk ke masjid sholat berjamaah, ia tak canggung lagi untuk belajar islam di masjid kampus. Satu lagi yang dikenal dari Doni, kini ia dikenal mahasiswa yang taat beragama dan islami.
Dalam sebuah forum diskusi antara aku dan Doni beserta teman – teman di Rohis, ia mengungkapkan bahwa ia masih menyimpan kerinduan yang luar biasa besar kepada Rasulullah paska mimpinya bertemu dengan beliau dulu. Terbersit niatnya untuk umrah dan ziarah ke masjidil haram dan masjid nabawi. Sebenarnya itu sangat mudah bagi Doni yang notabenenya anak orang kaya seperti dia. Namun kendalanya justru ada pada keluarganya. Mereka belum tahu perihal perubahan Doni menjadi seperti ini. Kamipun menyarankan agar Doni segera memberitahukan maksud dan keinginannya itu kepada orangtuanya. Aku sempat melihat keraguan pada wajah Doni, tapi entah kenapa. Sepertinya ada yang ia sembunyikan terkait kondisi keluarganya.
Malam hari setelah diskusi panjang kami itu, Doni bicara serius kepada keluarganya. Ini momen jarang terjadi, karena memang ayah Doni sangat jarang di rumah.
“Ma, Pa, Doni boleh minta sesuatu gak pa? ma?” Doni memulai percakapan itu dengan nada yang halus.
“Tentu, bilang aja Don,” jawab sang ayah memberi harapan besar bagi Doni.
“Begini Pa, Doni pengen jalan – jalan ke luar negeri”. Bahasa Doni diplomatis.
“ehmm.. Mau liburan ya? Boleh saja, kita entar sama – sama sekeluarga.” Jawab sang ayah yang kini membuat Doni ragu. Bagaimana mungkin mereka setuju bila dia bilang mau umrah dan ziarah ke makan Rasulullah.
“Sebut aja Don, mau kemana?? Eropa?Amerika? Atau Australia?” Sang ibu memberi pilihan. Tentu membuat Doni tambah bingung. Ia pun mulai putar otak untuk member jawaban yang cerdas.
“Mama sama papa kan sudah pernah semua ke tempat – tempat itu, Doni punya alternatif pilihan ma.. pa..” Lagi, Doni mulai diplomatis
“Kemana itu Don?” sang ayah mulai penasaran.
“Timur tengah Pa!”Jawab Doni dengan yakin.
“Timur tengah?? Kamu mau ajak kita lihat gurun yang panas ya??Atau liat onta?? Jangan ngawur Don!” Jawaban ayahnya bernada sinis.
“Tentu ndak donk pa, banyak yang bisa kita liat pa. Kita bisa berkunjung ke pusat berkumpulnya umat muslim di masjidil haram dan masjid nabawi. Setelah itu kita bisa ke Dubai, kota eksotis, terus ke Mesir dengan sungai Nil dan pyramid yang indah. Pasti papa dan mama belum pernah kan?? Bosen pa ke eropa atau amerika..apalagi Australia.”Doni mencoba meyakinkan orang tuanya. Ia tak mau orangtuanya tahu maksud ia sebenarnya.
“Sepertinya menarik tu pa..!” Ibu Doni nampaknya mulai terpengaruh.
“Ehm, boleh juga ide kamu Don, semua tempat sudah kita kunjungi, tapi timur tengah belum. Boleh juga tu. Pengalaman baru.” Jawab sang ayah membuat wajah Doni mengembang.
“Kalau begitu bagaimana pa?” Tanya Doni memastikan.
“OK, dua pekan lagi kita berangkat. Siap – siap aja, biar papa yang urus passport nya.” Kini sang ayah yang terlihat lebih bersemangat.
“Papa sama mama masih ingat cara sholat kahn?” Tanya Doni setengah bercanda.
“Ya masih lah Don. Emangnya kenapa?” Tanya sang ayah.
“Kita kahn mau mengunjungi negeri – negeri muslim, malu dong pa kalo ntar kita nggak bisa pas kita di mekkah dan madinah. ” jawab Doni menjelaskan dengan pelan, tanpa menggurui. Setelah itu Doni berpura – pura meminta ajari Sholat kepada ayah danb Ibunya. Padahal niat Doni adalah hanya mengingatkan kembali kepada ayah – ayahnya tentang bacaan sholat dan gerakannya yang mungkin saja sudah lupa. Menurut cerita dari ayahnya, sang ayah terakhir sholat ketika SMA, sang ibu juga demikian.
Singkat cerita, perjalanan panjang telah dimulai dan merekaa sudah ada di Masjidil Haram. Tempat suci umat Muslim. Pada saat itu bertepatan dengan sholat subuh. Hati Doni bergetar hebat ketika memasuki masjid tersebut. Orang tuanya masih biasa – biasa saja. Doni segera menempati shoff untuk sholat demikian ayah dan Ibunya. Ayah Doni berada tepat di samping Doni sedangkan Ibunya berada di Shof bersama Shof khusus wanita agak di belakang. Hati Doni menjadi bergetar hebat ketika takbir imam berkumandang. Ia merasa mimpi itu menjadi kenyataan. Tanpa ia sadar air mata meleleh. Menganak sungai membasahi pipinya. Hati semakin bergetar mendengar lantunan ayat – ayat Al Qur an di tempat yang begitu dekat dengan ka’bah. Tangispun pecah. Tanda haru. Tanda syukur. Tanda khusyuk. Tanda keberpasrahan total kepada Tuhannya. Tanda taubat yang sempurna atas dosa – dosanya. Nampaknya hal itu juga terjadi pada sang ayah. Tiba – tiba saja air mata sang ayah juga mengalir, tangispun pecah antara ayah dan anak dalam lantunan ayat – ayat Al qur an yang dibaca oleh sang imam. Doni berharap, sang Ibu juga demikian. Selesai sholat dan keluarga itu berkumpul, terlihat mereka saling peluk dan menangis. Merasakan hidayah yang luarbiasa yang diberikan oleh Allah kepada satu keluarga ini. Di bawah naungan Ka’bah.
Pagi harinya keluarga ini melanjutkan ke Masjid Nabawi untuk ziarah ke makam Rasulullah. Sepertinya kerinduan Doni sudah mencapai puncaknya. Sehingga ketika sampai di masjid Nabawi, lagi – lagi ia tak kuasa menahan air matanya. Di masjid itu, ia habiskan tangis kerinduannya kepada sang rasul. Di masjid ini ia tumpahkan seluruh cinta dan rasanya pada sang Rasul. Walaupun tidak bertemu secara fisik dengan sang Rasul, serasa di masjid ini ia bertemu dengan sang Nabi dan sang Nabi seolah berkata padanya, “ahlan wa sahlan di masjidku wahai orang yang merindukanku”. Doni makin larut dalam tangisnya.
Read more »

Kisah Cinta Sayyid Quthub

Jika kita membicarakan atau membaca biografi tentang sayyid Quthub, sebagian besar penulis lebih banyak menulis biografi atau pemikirannya dalam konteks pergerakan dakwah dan jihad. Buku – buku yang beliau tulis sendiripun sebagian besar berisi berbagai pemikirannya yang kini banyak menjadi rujukan kebanyakan aktivis pergerakan dakwah.
Dalam episode kehidupannya, terdapat episode dimana ia mengalami ‘tragedi’ cinta yang tidak banyak ditulis. Dr Abdul Fattah Al Khalidi yang menulis tesis tentang kehidupan Sayyid Qutb menceritakan tragedi cinta Sayyid Qutb. Begini “tragedi” cintanya:

Suatu saat, ia jatuh cinta kepada seorang gadis di desanya. Ia pun berniat untuk segera meninang sang gadis. sebelum kesampaian niatnya tersebut, ia diharuskan pergi ke luar negeri untuk menuntut Ilmu dan berniat melanjutkan niatnya ketika kembali ke mesir. Namun takdir berkata lain, ketika ia kembali ke mesir, sang gadis telah menikah dengan orang lain. Peristiwa ini sangat membuatnya bersedih.
Ia tidak ingin berlarut – larut dalam kesedihannya dan harus segera bangkit. Ia tidak ingin seperti Qois yang ‘majnun’ karena ditinggal Laila. Baginya, kehilangan seorang gadis bukan berarti kehilangan cinta. Ia ingin memulai lagi kisah cintanya dari awal. Akhirnya setelah beberapa saat, ia jatuh cinta lagi dengan seorang gadis Kairo. Walaupun tidak terlalu cantik dibanding gadis yang pertama, sang gadis tersebut terkenal sebagai gadis yang sholehah dan memiliki komitmen keislaman yang kuat.
Bangunan harapan yang tinggi untuk segera menggenapkan setengah dari agamanya kembali harus runtuh. Suatu saat sang gadis menceritakan bahwa di masa lalunya, ia pernah menjalin cinta dengan seorang pemuda. Sayyid Quthub yang idealis itu hanya menginginkan pasangan hidup yang bukan hanya gadis secara fisik, namun juga hatinya. Akhirnya Sayyid Qutb membatalkan menikahi gadis tersebut. Hal ini membuat Sayyid Qutb sedih cukup lama. Sampai kemudian ia putuskan untuk menerima kembali wanita tersebut dan mencoba lebih realistis dalam berfikir. Namun apa yang terjadi?? Ditolak. Inilah yang kemudian membuat Sayyid menulis roman-roman kesedihannya.
Hal itu membuat Sayyid Quthub sadar, bahwa ia tidak hidup dalam ruang idealitas. Ada jurang lebar antara idealitas dengan realitas tempat ia berpijak sekarang. Kalau cinta tak mau menerimanya, biarlah ia mencari energi lain yang lebih hebat dari cinta. “Allah”, begitulah Ustadz Anis Mata memberi kesimpulan. Energi itulah yang kemudian membawanya ke penjara selama 15 tahun. Menulis karya monumentalnya Tafsir “Fi Zilaalil Qur’an” (dalam naungan al qur’an). Dan meninggal di tiang gantungan. Sendiri! Tidak ada air mata, tidak ada kecupan, tidak ada sentuhan wanita.
Read more »

Minggu, 17 Oktober 2010

Hatiku Bergetar Setelah Melihatnya

Akhir pekan di bis kota selalu bercerita tentang cerita keramaian. Penuh sesak. Selalu begitu. Selalu saja aku harus berdiri. Termasuk akhir pekan ini ketika aku harus pulang ke kempung halaman setelah beberapa bulan bergelut dengan kehidupan kota tempat kuliahku. Malang – Lamongan tentu bukan jarak yang dekat jika harus dilalui dengan berdiri di bis. Panas. Melelahkan. Berdesakan. Tapi bukan menjadi hal yang baru bagiku. Sudah terbiasa. Sudah tak terasa bahkan. Berdiriku tak ingin kusiakan dengan kelelahan – kelelahan semata. Biasanya aku membawa mp4 yang siap menemani perjalanan panjangku yang melelahkan.

Setelah setengah perjalanan, bis berhenti di salah satu terminal untuk istirahat sopir dan kondekturnya. Di sana juga banyak penumpang yang turun. Sebagian turun. Aku pun mendapat tempat duduk tepat di seberang kursi seorang akhwat yang menjadi mahasiswa salah satu kampus di Malang. Wajahnya terlihat tampak lelah. Lusuh. Berkeringat. Ditambah jilbab lebarnya yang membungkus sang akhwat membuatnya persis seperti pepesan akhwat (maaf ukh.. ^_^v). Udara siang itu memang sangat panas. Dalam dudukku yang nyaman akhirnya kembali ku nikmati alunan murattal melalui mp4 yang kudengarkan. Lama bis itu berhenti. Penjual asongan silih berganti menjajakan jualannya keluar masuk bis. Disusul oleh para penyanyi jalanan yang silih berganti melantunkan lagu – lagu andalan mereka masing – masing. Tidak terlalu terdengar olehku. Masih kalah dengan mp4 yang sengaja agak aku keraskan.

Lima belas menit sudah bis berhenti namun belum ada tanda – tanda untuk bergerak. Ketika para pengamen dan pedagang asongan sudah turun, tiba – tiba mataku tertuju pada seorang anak kecil yang masuk bis. Kira – kira seusia anak kelas 3 SD. Wajahnya lusuh. Kulitnya agak hitam. Mengayun gitar mungil lusuhnya. Seketika aku tahu bahwa dia adalah penyanyi jalanan juga. Penyanyi cilik jalanan tepatnya. Aku melepas headset dari telingaku untuk mendengar lantunan lagu dari penyanyi cilik jalanan itu. Pertama ia melantunkan lagu – lagu religi dari UNGU, kemudian lagu OPIC, yang terakhir ia melantunkan lagu SNADA. Akhirnya aku menyebutnya Penyanyi Cilik Religi Jalanan. Lumayan menghibur. Dan sempat membuatku terheran – heran.

Di akhir pertunjukannya ada episode yang menarik. Seorang akhwat yang duduk di seberang kursi tidak sengaja menjatuhkan uang logam Rp.500 dan menggelinding hingga ke bawah anak itu. Seketika ia melihat. Mengambil. Dan mengembalikan kepada sang akhwat. Sang akhwat terdiam seketika. Begitu juga saya. Begitu juga para penumpang yang lain. Sang akhwat mengambil uang itu dan menggantinya dengan uang kertas Rp.10.000,- lalu diberikan kepada sang anak. Sang anak yang sekarang terdiam. Dalam diamnya terpancar cahaya kesenangan yang luar biasa. Di balik wajah lusuhnya. Di balik keringat – keringatnya. Di balik kepolosannya dan keluguannya. Dalam diamnya ia bercerita kepada kami tentang cerita kejujuran yang luarbiasa.

Cerita menariknya tidak sampai disitu saja. Aku melihat ia membeli koran dari penjual koran yang kebetulan juga menjajakan koran di dalam bis. Kami menjadi terheran. Untuk apa ia membeli koran. Saya rasa anak seusianya juga belum bisa membaca. Kalaupun sudah bisa saya rasa ‘berita’ belum menjadi sesuatu yang disukainnya. Sang akhwat yang berada di dekatnya kulihat ia bertanya, “untuk apa dek korannya??”. Sang anak itu menjawab, “ini bukan untuk saya kak, ini untuk kakak saya.” Tidak puas dengan jawabannya, sang akhwat bertanya lagi, “Kenapa adek belikan, kan kakak adek bisa beli sendiri??”. “Kakak baru saja lulus kuliah, katanya dia butuh banyak informasi lowongan kerja, setiap hari saya pulang mengamen selalu membawa koran untuk kakak. Biar kakak segera dapat kerja. Kata kakak, kalau dia sudah bekerja, saya mau disekolahkan lagi. Saya pingin sekolah lagi kak!!”

Mendengar jawaban itu aku lihat air mata sang akhwat tiba – tiba mengalir. Hatikupun bergetar menyaksikan episode percakapan dau manusia di atas bis tersebut. Aku hanya terdiam. Pandanganku tertuju pada sang anak dengan keluguannya yang berhasil manambat hati – hati kami. Subhanallah.. subhanallah.. hanya itu yang sanggup terucap dalam lisanku. Kulihat penumpang lain juga terdiam menyaksikan sang anak tersebut. Setelah itu kulihat semua penumpang memberikan uangnya masing – masing pada sang anak. Dengan jumlah beragam. Dengan polosnya sang anak tersenyum kemudia berucap, “terimasih semuanya, doakan agar kakak segera dapat kerja, biar aku bisa skolah lagi”. Hatiku benar – benar bergetar setelah melihatnya. Penyanyi Religi Cilik Jalanan.
Read more »

Sabtu, 16 Oktober 2010

Ya Rabb, Jadikan aku hamba-Mu yang beriman

Tiba – tiba aku ada. Ruh yang sebelumnya tiada ini diadakan oleh Dzat yang Maha Ada. Di alam ruh inilah aku hidup dalam keindahan. Ketenangan. Kesenangan. Kenyamanan. Hingga suatu saat Tuhan mengabarkan bahwa sudah saatnya aku harus diturunkan ke alam dunia. Dunia. Nama yang begitu asing dan belum pernah ku dengar sebelumnya. Apakah ia seindah dan senikmat alam ruh yang saat ini aku tinggali? Ataukah sebaliknya? Rasa penasaran yang memuncak akhirnya mengantarkanku menemui Rabb Yang Maha Agung. Aku menanyakan kepadaNya perihal alam raya yang bakal menjadi tempat tinggal baruku. Kemudian dengan Kasih SayangNya Ia membukakan tabir dan memperlihatkan adegan demi adegan yang terjadi di alam dunia kepadaku.

Aku melihat julangan gunung yang megah lagi gagah. Terlukis dengan indah. Dari kejauhan nampak biru. Tenang. Tanpa beban. Diam. Tanpa ada terpaan kesulitan kehidupan yang datang. Sepertinya penuh dengan ketenangan. Dalam hatiku berkata, “sungguh nikmatnya jika Allah menurunkan aku ke dunia sebagai julangan gunung itu”. Namun setelah beberapa saat aku melihat sang gunung marah. Memerah. Merekah. Menggelegar. Dahsyat. Mematikan. Merusak sekitarnya. Membumi-hanguskan apapun yang ada di sekelilingnya. Seketika aku takut. Kemudian ku katakan kepada Tuhan, “wahai Tuhan, jangan Kau turunkan aku sebagai gunung yang berbuat kerusakan di bumi..”

Setelah itu aku menyaksikan anggota alam raya yang lain. Kali ini aku melihat hamparan laut yang membiru. Tidak setenang gunung. Ia senantiasa bergejolak. Bergemuruh. Mengalir. Memecah batuan pantai. Namun semua terlukis dengan keindahan dan keindahan. Semua tergambar dengan kenyamanan dan kenyamanan. Membuat tenang dan senang siapapun yang datang dan menyaksikan hamparan lautan itu. Dalam hatiku berkata, “sungguh nikmatnya jika Allah menjadikan aku sebagai lautan”. Namun setelah beberapa saat aku melihat ia marah dengan kemarahan yang besar. Gerakan ombak raksasa menyapu sekelilingnya dengan brutal. Menghabisi. Merusak. Menenggelamkan. Membubuh. Menghanyutkan. Apapun yang ada di sekitarnya seketika habis dengan sapuan sekejap saja. Akupun seketika takut. Kemudian aku berkata kepada Tuhan, “wahai Tuhan, jangan Kau turunkan aku sebagai laut yang berbuat kerusakan di muka bumi!!”

Kemudian aku menatap langit. Indah dan cerah. Sama indahnya dan sama birunya dengan laut. Tapi ia terlihat lebih tenang. Tiada gemuruh. Tanpa gerakan. Sunyi dari aliran dan pergerakan. Yang ada hanya ketenangan. Sepertinya tidak akan ada kerusakan yang ia timbulkan dengan ketenangannya. Ia tampak pendiam. Dalam hatiku terbersit, “mungkin aku minta menjadi langit saja, sepertinya lebih tenang dan tak ada kerusakan yang akan ia timbulkan”. Namun setelah beberapa saat tiba – tiba datanglah pasukan langit hitam – hitam pekat. Menutup birunya biru. Yang tampak kemudian hanyalah hitam. Gelap. Gemuruh mulai terdengar menggelegar. Bahkan gemuruhnya lebih tajam dari gemuruh lautan dan gemuruh gunung. Keras. Menyambar. Kemudian ia memuntahkan air dengan lebatnya. Ternyata dalam diamnya ia menyimpan potensi merusak yang dahsyat. Seketika ia menenggelamkan apapaun yang ada di bawahnya. Menghanyutkan. Merusak. Membunuh. Kemudian aku katakan kepada tuhan, “Wahai Tuhan, aku tidak ingin menjadi langit yang mengeluarkan air perusak alam!!”

Setelah menyaksikan fenomena tingkah laku anggota alam raya yang laur biasa tersebut, kukatakan pada Tuhan, “Wahai Tuhan Yang Maha Agung, tidakkah Engkau mau menangguhkan aku untuk turun ke dunia? Biarkan aku hidup disini saja. Hidup yang penuh ketenangan.”

“Wahai Ruh, tempatmu di dunia..!!” tegas Tuhan kepadaku.
“Kulihat sedari tadi semua makhluk yang ada di dunia hanya berbuat kerusakan dan kerusakan. Aku ingin menjadi makhlukMu yang selalu membawa kebaikan bagi seluruh alam”. Jawabku.
“Kamu akan aku tiupkan ke jasad manusia. Engkau nantinya akan menjadi makhluk bernama manusia.” Firman Tuhan padaku.

Kemudian Tuhan kembali membuka tabir dan memperlihatkan kepadaku makhlukNya yang bernama manusia. Kulihat ia lebih kecil daripada makhluk yang sebelum ku saksikan. Ku lihat ia berjalan. Berlari. Duduk. Tidur. Terawa. Menangis. Bergurau. Bicara. Diam. Berteriak. Sungguh makhluk yang unik menurutku. Seketika aku tertarik. Makhluk sekecil ini tidak mungkin membuat kerusakan sebesar dan sedahsyat nmakhluk – makhluk besar yang ku saksikan sebelumnya. Dan itu membuatku tenang dan nyaman untuk segera berwujud sebagai makhluk baru bernama manusia. Sampai beberapa saat kemudian aku melihat makhluk kecil bernama manusia ini saling membunuh satu sama lain. Saling berperang. Menebar ketakutan. Merusak tatanan alam hingga keseimbangannya alam raya terganggu. Lalu datanglah bencana – bencana alam dan bencana – bencana kemanusiaan. Lebih dahsyat. Aku terheran – heran. Dalam kecilnya ia menyimpan kekuatan dahsyat untuk merusak dan membinasakan alam. Seketika aku katakan kepada Tuhan, “wahai Tuhan, aku tidak ingin menjadi manusia, lebih baik Engkau turunkan aku sebagai gunung, langit atau lautan saja. Ternyata makhlukMu yang bernama manusia lebih besar potensi merusaknya.”

Tuhan diam tak menjawab. Sementara aku masih dalam keraguan dan ketakutan yang kuat. Ia menyibak lagi tirai dan memeprlihatkan lagi alam dunia kepadaku. Beberapa jenak kemudian aku melihat manusia – manusia yang berbeda dari sebelumnya. Sama kecilnya. Sama sifat – sifat fisiknya. Namun mereka berbeda sama sekali perbuatan dan tingkah lakunya. Kulihat mereka bersujud. Ku lihat mereka bertasbih. Kulihat mereka saling bantu satu sama lain. Ku lihat mereka memakmurkan bumi dengan baik. Ku lihat mereka menebarkan keselamatan dimanapun mereka berada. Ku lihat kebaikan dan kebaikan yang terpancar dari wajah – wajah mereka. Dan itu mengikis habis keraguan – keraguan ku.

“Mereka itu siapa ya Rabb??” tanyaku kepada Tuhan.
“Mereka adalah hamba – hambaKu yang beriman.” Jawab Tuhan.
“Ya Rabb, aku ingin aku engkau turunkan sebagai manusia yang beriman kepadaMu” Pintaku pada Tuhan.
“Bersumpahlah bahwa engkau akan taat kepadaku. Dan saksikanlah bahwa tiada Tuhan selain Aku!!” Tuhan mengambil kesaksian padaku.
“balaa Syahidna... Saya bersumpah dengan keMaha Sempuraan Dzat Mu, aku akan beriman kepada Mu dan tidak menyekutukan Mu dengan sesuatu apapun.”

Itulah saat – saat terakhir aku bersama Rabb-ku di alam Ruh. Kemudian Ia meniupkan aku ke jasad manusia di dalam rahim. Itulah alam transisi menuju alam dunia. Aku semakin tidak sabar untuk segera lahir kedunia. Bertemu dengan orang – orang beriman. Bersama – sama dengan mereka dalam ketaatan kepada Rabb Semesat alam. Menebar keselamatan dan rahmat. Memimpin dunia ini dan mengelola dunia ini dengan sentuhan nilai – nilai Rabbani. Karena yang ku ingat, Tuhan menitipkan bumi dan seluruh alam ini kepada kami manusia – manusia yang beriman. Maka tidak akan kami serahkan kepemimpinan dunia ini kepada orang – orang yang berbuat kerusakan!! Dengan lantang akan kami katakan, “Kami akan memimpin Dunia!!!”

(Dody Arief Krisnawan)
Read more »

Jumat, 15 Oktober 2010

Yah..Kembalikan Tangan ku

Ia berlari terus seolah tiada pernah lelah. Sesekali ia melompat. Sesekali ia berguling – guling. Sesekali ia mengambil mobil – mobilannya kemudia ia bawa berputar – butar. Bergerak. Terus bergerak. Sepertinya ia sedang asyik dengan dunianya. Dari jauh seorang wanita melihat dengan seksama. Memperhatikan seorang anak yang sedang mengembangkan imajenasinya. Sesekali wanita itu ikut tertawa. Tersenyum. Sesekali ia melamun. Kadang ia memperingatkan anak itu agar bermain lebih hati – hati. Perasaan cinta wanita itu benar – benar terpancar dari matanya. Seperti cinta ibu kepada anaknya. Sayangnya, wanita itu bukan ibunya. Ia hanya pembantu di rumah tersebut. Ia yang bertugas mengasuh anak majikannya setiap harinya. Sementara ibu dan ayah anak itu sibuk dengan pekerjaannya masing – masing. Sepanjang hari. Sepanjang minggu. Mereka berangkat sebelum sang buah hati terbangun. Malamnya baru datang saat sang anak sudah tertidur. Sehingga tanggungjawab mengasuh anak ia percayakan sepenuhnya kepada pembantunya.
Hari minggu adala hari yang paling paling membahagiakan bagi anak itu karena hanya pada hari minggulah mereka bisa berkumpul selayaknya keluarga. Selama satu hari penuh biasanya mereka habiskan untuk jalan – jalan bersama. Sepertinya, anak itu merasakan punya orang tua hanya sehari dalam seminggu. Hanya pada hari minggu. Di hari – hari berikutnya, mereka harus kembali pada rutinitasnya masing – masing: Orang tua sibuk dengan pekerjaannya. Sang anak sibuk dengan kesendiriannya.
Suatu saat sang anak punya permainan baru: menggambar. Imajenasinya melayang bebas tanpa batas. Ia menggambar apapun yang ada dalam pikirannya. Hari itu berlembar – lembar buku ia habiskan. Sang pembantu hanya diam. Tapi terlihat senang. Sementara sang anak sedang sibuk dengan permainannya yang sepertinya menyenangkan. Melihat sang anak sedang asyik dan tenang, hening tidak ada keributan, tidak ada aktivitas permainan yang mengkhawatirkan, dalam lelahannya sang pembantu tidur di samping anak yang sedang asyik menggambar.
Anak itu telah merampungkan gambarnya di halaman terakhir buku gambar yang baru saja di belikan oleh sang pembantu. Anak itu bingung harus menggambar di mana. Sementara hasrat menggambarnya masih tinggi. Akhirnya ia menemukan media putih besar untuk menggambar: dinding rumah. Ide besar pun muncul. Kalau sebelumnya ia hanya menggambar di buku kecil, ia berencana untuk membuat sebuah karya besar di buku gambar besar yang sedang terhampar di hadapannya. Tanpa pengawasan siapapun ia mulai menumpahkan imajenasinya di dinding rumah. Ia gambar rumah. Pepohonan. Ia gambar ayahnya. Kemudian ibunya. Kemudian ia gambar dirinya sendiri diantara keduanya. Walaupun berupa gores dan coretan, benar – benar menggambarkan impian yang besar dari sang anak yang lahir dari kerinduan yang besar kepada suasana kasih sayang dan kebersamaan.
Karya besar telah diselesaikan. Walaupun gambar tidak terlalu jelas, yang jelas dinding rumah telah berisi coretan – coretan pensil warna di sana – sini. Ia tertawa kegirangan. Melompat – lompat. Berlari – lari. Membangunkan sang pembantu seolah ia ingin memberitahukan hasil karya barunya. Seketika sang pembantu bangun diam tak berkata – kata melihat dinding rumah yang ada di depannya. Melihat dengan tatapan tak percaya. Kekhawatiran dan ketakutan seketika muncul kalau majikannya sampai mengetahui apa yang dilakukan anaknya. Tentu ia yang akan dimarahi. Ia dianggap tidak bisa menjaga anak dengan baik. Tidak bisa merawat rumah dengan baik. Dalam benaknya ia menyangka inilah akhir riwayatnya bekerja di rumah itu sebagai pembantu.
Akhirnya malam yang dinantikan tiba. Malam di saat sang majikan datang. Sang anak juga tidak mau tidur, ia menunggu orang tuanya untuk memberitahukan karya besarnya kepada mereka. Begitu mendengar bel berbunyi sang anak berlari menuju pintu untuk menyambut orang tuanya. Melihat sang anak yang membuka pintu mereka berdua pun kaget. Seketika memeluk dan menggendongnya.
“adek kok belum tiduurr..??” ujar sang ayah sambil menggendong sang anak.
“adek uda bica gambar lho yah..” ucap sang anak dengan bangga.
“wah.. hebat adek.. mana ayah mau lihat”
“ayo kecana yah...”
Bukan buku gambar yang diberikan anak itu. Ia memberikan buku gambar raksasa berupa dinding rumah yang penuh dengan coretan dan gambar. Seketika sang ayah naik darah. Marah. Membentak. Menjewer. Anakpun seketika kaget dengan sikap ayahnya yang jauh dari apa yang ia perkirakan. Iapun menangis. Sekeras yang ia bisa. Untuk memberi pelajaran sang ayah memukul tangan anaknya dengan penggaris. Lalu ia mengambil bunga mawar di vas bunga dan memukul mukulkan pada tangan anaknya. Tangan sang anak mulai lecet. Merah. Dan sedikit mengeluarkan darah karena duri – duri mawar. Sang ibu hanya diam seolah membenarkan apa yang dikerjakan sang ayah.
“cukup tuan.. cukup..” sang pembantu yang tidak tega melihat kejadian itu mencoba menghentikan tindakan majikannya. Ia memeluk sang anak. Mencium. Dan mengusap tangan dengan kain baju untuk menghilangkan darahnya. Air mata mereka berdua terus keluar. Sementera sang orang tua berlalu dan meninggalkan mereka berdua.
Suatu hari...
“Tuan...tuan.. Ade sakit.. badannya panas” sang pembantu panik menelpon majikannya yang sedang bekerja.
“Beli aja obat penurun panas di warung.. nanti juga reda panasnya..”
Sehari. Dua hari. Tiga hari. Panas tak kunjung turun. Malah semakin panas. Tangannya juga bengkak. Akhirnya sang pembantu berinisiatif membawa sang anak ke rumah sakit. Akhirnya sang anak harus dirawat di rumah sakit. Badannya panas tinggi. Sedang tangannya bengkak dan membesar. Dengan keadaan seperti itu kedua orang tuanya hanya bisa menangis menyesali apa yang mereka lakukan.
Doker memanggil kedua orang tuanya untuk menemuinya di ruangannya.
“Tangan anak anda harus diamputasi. Terjadi infeksi luka serius karena terlambat ditangani dan diobati. Kalau tidak, luka akan semakin menjalan ke bagian yang lain..”
Seolah disambar petir. Seolah lepas semua tulang. Lemas. Tak berdaya. Sang ibu menangis dengan keras. Sang ayah hanya melamun. Menyesal. Sangat menyesal. Kemudian menagis dengan dalamnya. Akhirnya mereka merelakan tangan anknya diamputasi demi menyelamatkan nyawanya. Tak bisa dibayangkan perasaan sedih dan bersalah yang berkecamuk di hati kedua orang tua tersebut, anak kesayangannya akan kehilangan tangan karena kesalahannya. Karena teralu menuruti amarahnya.
Suatu pagi...
Sang anak bangun dari tidunnya. Sementara ayah dan ibu serta pembantunya berada di dekat ranjangnya di rumah sakit. Setelah sadar ia kehilangan tangannya,
“ayah.. mama.. tangan ade jangan diambil.. ade janji tidak nakal lagi.. ade gak mau gambar lagi.. ade mau jadi anak baik.. ade mau nurut kata ayah ma ibu.. haaaa.. kembalikan tangan ade.. kembalikan maa.. yah... kembalikan” tangis sang anak makin keras. Menusuk hati. Semua menangis. Termasuk suster dan dokter yang ada di ruangan itu. Termasuk orang – orang yang menyaksikan episode itu. Termasuk langit yang saat itu menurunkan air matanya dengan deras. Deras sekali.

Read more »

 

Goresan pena

Kabar berita

Harokatuna