Tampilkan postingan dengan label pergerakan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pergerakan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Oktober 2011

Di Sini Negeri Para pecinta


Kuingin menulis ulang tulisan ini. dan ingin terus kusampaikan ini padamu untuk rasa yang baru. Untukmu. Hanya untukmu. Berawal dari ruang sempit nan sederhana ini ku jelajahi alam raya pemikiran kemudian menumpahkannya kedalam barisan huruf yang berjajar rapi. Paragraf ini ku awali dengan kata – kata terdahsyat dalam sejarah, “Aku mencintaimu karena Allah...!!”

Ya, aku mencintaimu karena Allah. Tak ada yang sanggup memaksaku untuk mencintaimu. Begitu pula, tidak ada yang sanggup melarang untuk menambatkan hatiku padamu. Di saat semua tabu berbicara tentang hal ini, saksikan, saat ini aku mencintaimu!!

Ya, aku mencintaimu karena Allah. Cintaku berbeda dengan cinta mereka. Cintaku bukan seperti cinta mereka yang hancur dengan ritual – ritual yang diharamkan. Juga bukan seperti mereka yang mengkebiri cinta dengan pengekangan dan larangan – larangan yang berlebihan. Yang ingin ku lakukan adalah mempertemukan keindahan nalar cinta dengan keagungan nalar Tuhan. Kemudian ku alirkan padamu.

Ya, aku mencintaimu karena Allah. Aku tak berharap berbalas cintaku. Aku tak berharap engkau menyambut gayung rasaku. Yang kutahu aku sudah memutuskan untuk mencintaimu. Dengan begitu aku akan terus mencintaimu. Kerja – kerja cintaku akan terus mengalir di tengah ketidak sadaranmu. Di tengah ketidak tahuanmu.

Ya, aku mencintaimu karena Allah. Aku tak menjanjikan mencintaimu dengan sempurna. Aku juga tak mengharapkan kau mencintaiku dengan sempurna. Aku hanya akan mencintaimu dengan cara sederhana. Ya, dengan sangat sederhana. Hanya saja, kesederhanaan cintaku akan kulandaskan pada Yang Maha Sempurna. Itulah, yang akan membuat kita menjadi lebih sempurna.

Ya, aku mencintaimu karena Allah. Namun aku bukanlah pecinta seperti mereka. Aku tak sanggup seperti mereka, yang gunungpun didaki untuk mencintaimu. Bukan pula seperti meraka, yang lautanpun diseberangi untuk mencintaimu. sungguh, Aku tak sanggup seperti mereka. Tak bisa memberi sebanyak mereka. Yang kubisa hanya mencintaimu dengan hati. Hati yang bersemayam asma  Tuhan Yang Maha Agung, Pemilik samudera dan Gunung – gunung.

Ya, aku mencintaimu karena Allah. Karena itu, jalan cintaku adalah Jalan Cinta yang dititi oleh nabi dan para pejuang. Jika itu berat bagimu, akan ku tinggalkan kau disini. karena aku akan mencintaimu selama kau berada dalam jalan Tuhanmu. Bersiaplah untuk mendengar kata maaf perpisahan ketika kau meninggakan Jalan Tuhan. Karena Aku mencintai Tuhanku, melebihi apapun, termasuk dirimu.

Ya, Aku mencintaimu karena Allah. Jangan kau memintaku untuk mencintaimu sepenuh hatiku. Tolong jangan memintaku untuk menyerahkan seluruh jiwa ragaku untukmu. Maaf, cinta sepenuh hatiku, cinta sepenuh jiwa dan ragaku sudah kupersembahkan kepada selainmu. Kecuali, jika kau sanggup memperhatikanku lebih lama, daripada perhatian-Nya. Kecuali, jika kau bisa memberikanku lebih, dari apa yang Dia berikan padaku. Kalau kau bisa melakukan semua, melebihi apa yang telah Dia lakukan padaku, aku akan bersujud sebagai wujud cintaku padamu.

Ya, aku mencintaimu karena Allah. Saksikan. Dan rasakan.
 *untuk ikhwan seperjuangan yang sedang berjuang. Mudah-mudahan Perjuangan ini terasa manis dengan ikatan Cinta di antara kita.. Amiin...*
Read more »

Rabu, 27 Oktober 2010

Tamayyuz di Mihwar Muassasi

Oleh Hilmi Aminuddin

Ikhwah dan akhwat fillah, saat ini gerakan dakwah kita memiliki rakizah siyasiah, yakni stressing atau titik tekan pada bidang politik. Hal ini perlu saya garis bawahi, mengingat ada beberapa hal yang kadang-kadang menyebabkan kita mengalami keterjebakan situasional. Misalnya ada yang mengatakan atau menganggap kita masuk ke dalam mihwar siyasi (era politik).

Padahal dalam manhaj kita, hanya dikenal mahawir arba’ah atau empat era yang di dalamnya tidak ada mihwar siyasi (era politik) sebagaimana halnya tidak ada mihwar tarbawi (era pembinaan). Keempat mihwar dakwah tersebut ialah mihwar tanzhimi (structural), mihwar sya’bi (masyarakat), mihwar muassasi (kelembagaan) dan mihwar daulah (negara). Di setiap mihwar dari empat mihwar dakwah tersebut terkandung amal siyasi (aktivitas politik) dengan tingkat persentase yang berbeda-beda, karena amal siyasi adalah bagian tidak terpisahkan dari amal da’wi (aktivitas dakwah) kita.

Ikhwah dan akhwat fillah, seringkali dalam menghadapi situasi, kondisi-kondisi, aksi-aksi dan tantangan-tantangan tertentu kita lupa untuk merujuk atau kembali ke manhaj (pedoman). Padahal penguasaan kita akan manhaj, insya Allah cukup baik, apakah itu di ruang lingkup manhaj asasi, yakni Alquran dan Sunah ataupun di ruang lingkup produk ijtihad jama’ah kita yang tentunya juga bersumber dari Alquran dan Sunah. Langkah-langkah perjuangan dalam bentuk manhaj amali (pedoman aktivitas) tersebut cukup untuk dapat merespon dan mengantisipasi segala perkembangan. Hanya saja kita seringkali lupa merujuk ke manhaj tersebut. Boleh jadi karena keterdesakan kita di lapangan atau kesibukan yang demikian padat.

Agar lebih jelas, saya ingin sedikit mengulang penjelasan-penjelasan tentang stressing di masing-masing mihwar. Pada mihwar tanzhimi, rakizatul amal (stressing kerja) kita berupa bina syakhshiyah islamiah dan syakhshiyah da’iyah atau mewujudkan sosok pribadi islami dan pribadi da’iah. Juga bagaimana kita berusaha mengokohkan mishdaqiyah syakhsyiah islamiyah dan mishdaqiyah syakhshiyah da’iyah atau kredibilitas pribadi islami dan kredibilitas pribadi da’iyah.

Di era atau mihwar tanzhimi tersebut yang selalu kita ukur dan evaluasi adalah tingkat pertumbuhan kader dalam arti pertumbuhan dan perkembangan kader-kader kita secara internal. Bahkan ketika kita mengukur, mengevaluasi diri dari segi eksternal, yang kita lihat pun sejauh mana pertumbuhan calon kader yang dapat direkrut menjadi kader. Jadi di masa itu orientasinya adalah perekrutan, pembinaan, pertumbuhan dan perkembangan kader-kader dakwah.

Kemudian dakwah kita berkembang dan memasuki mihwar atau era sya’bi. Di era ini kita mulai ber-sya’biah atau mensosialisasikan siri, kader-kader dan program-program dakwah kita di masyarakat. Sasaran yang ingin dicapai di mihwar ini adalah mishdaqiyah syakhshiyah ijtima’iyah atau kredibilitas sebagai pribadi yang diterima di masyarakat. Kita berupaya keras agar kader-kader kita memiliki kredibilitas tersebut. Di mihwar sya’bi ini kita bukan hanya menerapkan tolak ukur kuantitas berupa pertumbuhan dan perkembangan kader, melainkan juga sejauh mana kader-kader yang kita miliki memberi pengaruh di masyarakat.

Ikhwah dan akhwat fillah, di mihwar tanzhimi kita sudah mulai melaksanakan program-program yang merupakan mukadimah atau pengkondisian ke arah mihwar sya’bi. Begitu pula di mihwar sya’bi, kita sudah melakukan langkah-langkah pendahuluan yang sekaligus merupakan condisioning untuk menuju mihwar muassasi.

Alhamdulillah, Allah Ta’ala memberikan peluang yang mempercepat masuknya kita ke mihwar muassasi. Kita memang sudah membuat langkah-langkah mukadimah menuju mihwar muassasi berupa pendirian yayasan, lembaga-lembaga pendidikan, lembaga penelitian dan lain sebagainya. Namun perubahan-perubahan cepat yang terjadi yang antara lain dipicu dan dipacu oleh globalisasi ekonomi, politik dan lain-lain serta krisis ekonomi—dan tentu saja sebab utamanya adalah tadbirullah (rekayasa Allah), membuat peluang untuk memunculkan diri dalam bentuk kelembagaan formal terbuka lebar. Maka mulailah kita memasuki mihwar muassasi dengan menampilkan diri sebagai Hizbul ‘Adalah (Partai Keadilan). Kita menyebutnya mihwar muassasi dan bukan mihwar siyasi, walaupun memang dalam mihwar muassasi sebagaimana halnya di mihwar tanzhimi dan sya’bi terkandung aspek-aspek siyasi. Dan karena di mihwar muassasi ini sudah menyentuh aspek kelembagaan politik, maka persentase amal siyasinya pun meningkat.

Upaya memantapkan langkah-langkah secara struktural dan operasional di mihwar muassasi ini juga akan menyentuh sektor amal siyasi. Sekali lagi saya tegaskan bahwa amal siyasi merupakan sektor. Sebab bila kita mengatakan mihwar kini sebagai mihwar siyasi berarti kita terjebak ke dalam amal juz’i dan sekaligus harakah juz’iah, seperti halnya kita tidak bisa mengatakan sebagai mihwar tarbawi agar tidak terjebak juga pada ke-juz’iyah-an atau keparsialan. Jadi setiap mihwar memiliki beragam amal sesuai dengan ke-syumuliah-an dan ke-takamuliah-an amal Islam.

Ikhwah dan akhwat fillah, karena itu di setiap mihwar dibutuhkan adanya ke-tawazun-an antar amal. Ke-tawazun-an adalah proporsionalitas dalam pemberian peran-peran, pendayagunaan dan pengerahan potensi-potensi SDM. Kata proporsionalitas menunjukkan adanya ketepatan atau akurasi penyaluran potensi sesuai dengan tuntutan medan dan situasi-kondisi serta aksi-aksi yang kita lakukan.

Oleh karena itu, ikhwah dan akhwat fillah, betapa pun kita dituntut untuk merespon situasi dan kondisi saat ini dengan proporsionalitas yang menuntut porsi lebih di bidang politik, tetap saja kita tidak boleh mengabaikan amal tarbawi (pembinaan), amal tsaqafi (penambahan wawasan), amal khairi (sosial), amal ijtima’i (kemasyarakatan) dan lain-lain. Masalah stressing atau penekanan di sektor tertentu pada moment tertentu adalah hal yang biasa. Misalnya di bulan Ramadhan kita meliburkan halaqah-halaqah tarbawi internal, karena kita ingin merespon amal khairi dan taabbudi (ibadah) di bulan mulia tersebut. Kita berkonsentrasi meningkatkan tadayyun sya’bi (keberagamaan masyarakat) karena terdapat katsafah furshah (peluang yang luas) di bulan Ramadhan.

Jadi bila kini menjelang pemilu kita merespon tuntutan amal siyasi yang membesar, itu merupakan masalah proporsionalitas tanpa harus mengabaikan bidang-bidang lain. Sehingga memadatnya aktivitas politik kita menjelang pemilu tidak berarti kita terjebak dalam mihwar politik. Mihwar kita adalah mihwar muassasi, artinya secara kelembagaan kita mulai menampilkan diri seluruh batang tubuh ke permukaan dengan nama Hizbul ‘Adalah.

Ikhwah dan akhwat fillah, mihwar muassasi ini akan terus berkembang ditandai dengan bertambahnya muassasah atau lembaga infrastruktur sosial politik kemasyarakatan baik yang kita bangun sendiri atau yang kita warnai (muassasah yang dibangun oleh ikhwah seperjuangan dalam Islam, yaitu ormas atau parpol lain), dan nantinya juga kita bisa melebarkan sayap dengan memasuki secara langsung lembaga-lembaga suprastruktur dan infrastruktur kenegaraan. Hal ini merupakan bagian dari mihwar muassasi dan merupakan langkah-langkah awal yang akan menjembatani masuknya kita, Insya Allah, mustaqbalan (di masa mendatang) ke dalam mihwar daulah.

Hal penting yang harus kita perhatikan di dalam mihwar muassasi ialah bahwa kita bukan sekadar memunculkan diri dalam bentuk kelembagaan partai, melainkan juga mengupayakan bagaimana aqidah, fikrah dan manhaj kita mewarnai infrastruktur sosial politik di masyarakat atau infrastruktur kenegaraan dan kemudian akhirnya supra struktur kenegaraan. Lembaga infrastruktur dan suprastruktur negara akan kita masuki jika tingkat proporsi penyebaran SDM dan pengaruh kita di ruang lingkup kelembagaan infrastruktur kemasyarakatan atau sosial politik sudah memadai. Barulah kemudian kita melangkah ke dalam mihwar daulah.

Dalam hal ini ingin saya ingatkan bahwa setiap mihwar memiliki perimbangan proporsi amal yang berbeda-beda dan dapat berubah-ubah. Hendaknya hal ini tetap dalam ruang lingkup ke-tawazun-an dan keterpaduan amal islami.


Tamayyuz

Langkah-langkah amal kita harus mutamayyiz. Kita bergaul bersama, berpacu, namun nahnu mutamayyyizun (kita berbeda). Kata tamayyuz mengandung pengertian keberbedaan yang mengandung keistimewaan. Jadi bukan asal beda, melainkan mutamayyiz ’an ghairina, berbeda yang mengandung keistimewaan dari yang lainnya. Kita mengetahui slogan yang dikumandangkan oleh Syahid Sayyid Quthb, yaitu yakhtalithun walakin yatamayyazun, kita berbaur, bergaul, bersilaturahmi, ber-tawashau bil haq, ber-tawashau bis shabri, tawashau bil marhamah dengan seluruh lapisan umat, namun nahnu mutamayyizun, kita berbeda. Tamayyuz—kespesifikan ini penting agar menjadi arahan yang memudahkan masyarakat untuk mendukung kita.

Pertama-tama tamayyuz kita adalah dalam ruang lingkup SDM. Kita harus mutamayyiz fii rijal. Kita harus sanggup menampilkan tamayyuz fii rijal, keistimewaan SDM atau personil.

Ikhwah dan akhwat fillah, dalam memasuki mihwar muassasi yang kedudukannya merupakan langkah-langkah mukadimah menuju mihwar daulah, rijalud da’wah atau SDM dakwah kita seyogianya sekaligus juga memiliki bobot dan bakat yang akan dikembangkan menjadi rijalud daulah atau sosok negarawan yang memiliki visi kenegaraan yang baik.

Kita sudah memiliki kader-kader yang berbasis akidah, fikrah dan minhaj yang baik. Kini tinggal berupaya bagaimana kita mengekspresikan diri dan mengaktualisasikan diri secara atraktif. Bukan berarti kita riya, melainkan semata-mata dalam kerangka ‘isyhadu bi anna muslimin”, saksikan kami ini orang-orang Islam. Kita mencoba memperjelas, mengedepankan tampilan produk islamisasi rijal kita.
Paling tidak ada lima kespesifikan, keunikan atau keistimewaan yang—Alhamdulillah—dimiliki oleh jamaah kita, yaitu:

1. Mutamayyiz fii rijal (keistimewaan SDM)
2. Mutamayyiz fi adaa (keistimewaan penunaian tugas)
3. Mutamayyiz fii intaj (keistimewaan sentuhan produk)
4. Mutamayyiz fii khidmah (keistimewaan pelayanan)
5. Mutamayyiz fii muamalah (keistimewaan bermasyarakat)


Keistimewaan yang pertama ialah mutamayyyiz fii rijal atau keistimewaan personil dakwah. Keistimewaan personil dakwah atau SDM ini dilandasi oleh tamayyuz fii aqidah, fikrah, minhaj dan akhlaq. Modal utama berupa keistimewaan dalam akidah, fikrah, minhaj dan akhlak sangat berdayaguna dalam membangun mishdaqiyah syakhshiayah da’iyah (kredibilitas pribadi muslim dan da’iyah).

Namun keistimewaan SDM ini harus ditunjang oleh tamayyuz fii adaa atau keistimewaan dalam penunaian tugas. Jadi kita harus mutamayyiz fii adaa. Dalam menunaikan tugas, kita memiliki modal berupa motivasi yang tinggi yang dibangun oleh aqidah kita. Kemudian idealisme yang besar yang dibangun oleh fikrah kita dan langkah-langkah kerja yang tertib teratur yang dibangun oleh manhajiah kita.

Kesemuanya itu menjadi modal dalam menunaikan ruhul badzli wa tadhhiyah karena dilandasi niat yang khalishan li wajhillah ta’ala. Ruhul badzli wa tadhhiyah adalah modal motivasi, militansi dan vitalitas stamina yang dibangun oleh akidah, fikrah, akhlak dan semangat ibadah kita. Kesemuanya itu menjadi modal utama dalam tamayyuz fii adaa yang kemudian ditopang pula oleh kemampuan dalam takhtit, perencanaan/programming dan idariah/ manajemen.

Kelengkapan modal tersebut membuat kita mutamayyiz fi adaa, istimewa dalam penunaian tugas. Kita tidak menjadi orang-orang yang menunaikan tugas secara infiradiyah, sekenanya, seketemunya dan seadanya di lapangan, melainkan benar-benar mutamayyiz fii adaa karena di back up oleh faktor-faktor mental, moral dan ideal serta faktor-faktor konsepsional, berupa perencanaan dan manajemen yang baik. Jika kita berhasil menampilkan adaa’ul wazhaif (penunaian tugas secara baik), insya Allah keistimewaan kita akan muncul di tengah masyarakat.

Apalagi bila diikuti dengan keistimewaan produk-produk yang kita hasilkan yang menimbulkan kesan dan pengaruh yang kuat di masyarakat karena mau tidak mau masyarakat memang menilai dan mengukur masalah produktivitas.

Karena itu, keistimewaan yang ketiga yang harus kita miliki adalah tamayyuz fii intaj. Program-program yang kita gulirkan harus terasa hasilnya di masyarakat. Sudah tentu yang dimaksudkan terasa, tidak selalu harus dalam bentuk produk materi. Bahkan sebagian besar yang kita miliki bukan berupa produk materi, melainkan pendekatan ilmi, shihhi, ijtima’i, ma’nawi dan sebagainya

Ikhwah dan akhwat fillah, sudah sewajarnyalah masyarakat mengharap dan menunggu-nunggu produk-produk nyata yang dihasilkan oleh parpol-parpol dan kelompok-kelompok organisasi yang menjamur belakangan ini. Oleh karena itu kita harus mampu menyajikan produk yang mutamayyiz kepada masyarakat jika ingin mendapatkan sambutan publik yang baik.

Tamayyuz dalam produk bukan diukur dari segi kuantitasnya, melainkan dari segi kualitas sentuhannya yang terasa di hati masyarakat.

Ikhwah dan akhwat fillah, tamayyuz yang berikutnya yang juga harus kita miliki ialah tamayyuz fii khidmatan lis muslimin (keistimewaan dalam pelayanan kepada muslimin), khidmatan lin naas (pelayanan kepada manusia), sehingga kita akan tampil mutamayyiz fii khidmah (istimewa dalam pelayanan). Ada pepatah Arab berbunyi, “An-naas yuwalluna man yakhdimuhum,” (manusia akan memberikan wala atau loyalitas kepada orang-orang yang melayaninya). Karenanya ada juga pepatah lain, “Sayyidul qaum khaadimuhum” (Pemimpin suatu kaum [bangsa] adalah pelayan bagi kaum tersebut).

Bila kita tampil sebagai lembaga yang paling piawai memberikan pelayanan kepada masyarakat, maka ia pun akan mendapatkan sambutan lebih dibanding dengan yang lain. Pelayanan kepada masyarakat tidak harus selalu diartikan pelayanan fisik, materi yang bersifat langsung, simbolik, atraktif dan promotif, misalnya pemimpin datang memberikan bantuan materi kepada bawahannya. Hal itu hanya merupakan sebagian kecil dari ruang lingkup pelayanan kepada masyarakat. Memang hal itupun perlu juga sekali-kali kita lakukan, namun yang lebih penting adalah bagaimana kerja keras kita, mengupayakan terjaminnya kemaslahatan masyarakat dalam dua hal yang digariskan Allah dalam Q.S. Quraisy: (1) Terjaminnya masyarakat dari kebutuhan-kebutuhan hidupnya yang asasi أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ (terbebasnya dari kelaparan) dan (2) Kebutuhan akan rasa aman atau terbebas dari ketakutan, ketidakpastian, intimidasi, kediktatoran dan kezhaliman (وَءَامَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ).

Kedua hal tersebut juga berkaitan dengan لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ atau masalah qalb (hati) dan وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ atau berkaitan dengan terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan jasadiyah. Ruang lingkup pelayanan kita harus meliputi kedua aspek tersebut.

Dalam masalah pelayanan ini, hal yang perlu saya garis bawahi bahwa itu meliputi garis vertikal ke atas, yakni upaya kita mempengaruhi decision making dalam hal politik, hukum dan perundang-undangan dengan cara aktif memberikan usulan, kritik dan koreksi. Kemudian juga meliputi garis vertikal ke bawah, yakni upaya kita menggulirkan produk-produk dalam ruang lingkup ijtima’iyah, khairiyah, ilmiyah, tsaqafiyah, shihhiyah dan fanniyah di tengah masyarakat.

Produk-produk dalam ruang lingkup vertikal ke bawah akan menjadi basis dari upaya meluncurkan produk siyasah wal qanun ke atas. Dan produk siyasah wal qanun ke atas akan memayungi dan melindungi segala aktivitas pelayanan kita ke bawah. Artinya segala aktivitas kita yang menyebar di masyarakat perlu mendapat perlindungan politik dan hukum. Sebaliknya segala aktivitas yang berkaitan dengan masalah politik dan hukum perlu mendapatkan basis berupa produk dan kerja nyata kita di bidang ijtima’iyah, khairiyah, ilmiyah, fanniyah, iqtishadiyah dan sebagainya.

Akhirnya, ikhwah dan akhwat fillah, tamayyuz kelima yang harus kita miliki adalah tamayyuz fii muamalah. Cara agar kita tampil beda dan istimewa dalam bermuamalah (bergaul) adalah bila kita bermuamalah bil ihsan. Allah berfirman,
هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلاَّ الْإِحْسَانُ

“Tidak ada balasan kebaikan, kecuali kebaikan (pula).

Dalam hadits juga disebutkan bahwa Allah menyuruh kita berbuat ihsan dalam segala urusan. Yang dimaksud dengan ihsan adalah kebaikan-kebaikan, apakah berupa kebaikan materi, sulukiyah, maupun sikap dan perilaku. Dalam menyalurkan kebaikan-kebaikan tersebut hendaknya kita membingkainya dengan akhlaqul karimah. Sebab betapa pun besar kebaikan yang diberikan, jika cara memberikannya tidak disertai dengan adab dan kesantunan, maka ia akan lebih dirasakan sebagai penghinaan dan bukan kebaikan.

Inti muamalah adalah bagaimana kita menyebarkan kebaikan di tengah masyarakat dengan dibingkai akhlaqul karimah. Maka masyarakat pun akan melihat bahwa kita mutamayyiz fii muamalah, istimewa dalam berinteraksi di masyarakat. Sebab upaya menanamkan pengaruh di masyarakat, pada hakikatnya adalah bagaimana kita merebut hati orang. Selain berupaya membuka hati mereka melalui program-program yang kita selenggarakan dengan baik, juga harus dengan kekuatan ta’abudi dan taqarrub kita kepada Allah, karena miftahul qulub, kunci hati ada di tangan Allah. Dengan kekuatan ikhtiar dan doa kita berharap kepada semoga Allah membukakan hati-hati mereka.

Wallahu a’lam.
Sumber: Majalah Al-Intima' Edisi 009 Tahun 2010


http://www.pks-arabsaudi.org
Read more »

Minggu, 17 Oktober 2010

Serial Pergerakan KAMMI (1)

AL FAMH

Wahai saudaraku yang tulus ... !
Yang saya maksud dengan fahm (pemahaman) adalah bahwa engkau yakin bahwa fikrah kita adalah 'fikrah islamiyah yang bersih'. Hendaknya engkau memahami Islam, sebagaimana kami memahaminya dalam batas-batas ushul al-'isyrin (dua puluh prinsip) yang sangat ringkas ini:


20 prinsip (ushulul ‘isyrin) adalah pokok – pokok pemahaman dasar (fikrah) kepada agama islam yang lurus. Seluruh aktivis Islam harus memahami dinnya sebagaimana 20 prinsip yang termaktub dalam ushul ‘isyrin tersebut. Tak terkecuali bagi aktivis KAMMI yang notabenenya ‘bertitel’ aktivis pergerakan Islam. Ruh dari 20 prinsip ini seharusnya menjadi ruh dalam memahami pergerakannya.

Islam adalah sistem yang menyeluruh, yang menyentuh seluruh segi kehidupan. Ia adalah negara dan tanah air, pemerintah dari umat, akhlak dan kekuatan, kasih sayang dan keadilan, peradaban dan undang-undang, ilmu dan peradilan, materi dan kekayaan alam, penghasilan dan kekayaan, jihad dan dakwah, pasukan dan pemikiran, sebagaimana juga ia adalah aqidah yang lurus dan ibadah yang benar, tidak kurang dan tidak lebih.

Prinsip Pertama, adalah pemahaman tentang ke-sumuliyah-an fikrah gerakan KAMMI. Di KAMMI, Tidak ada ‘dikotomi pemikiran’ antara satu bidang dengan bidang yang lain. KAMMI tidak pernah memisahkan antara Islam dan politik. KAMMI tidak pernah memisahkan antara dakwah dan akademik. KAMMI tidak pernah memisahkan antara mahasiswa dan masyarakat. KAMMI tidak pernah memisahkan antara kampus dan negara. Semua terbingkai dalam satu kesatuan pemikiran islami yang integral.

Di kampus, kita melihat banyak mahasiswa muslim atau organisasi keIslaman yang hanya memperdalam aspek keIslaman saja dan tidak mau memperhatikan atau memperdalam pemahaman pada masalah – masalah sosial politik. Atau sebaliknya, banyak dari mereka hanya membahas dan memperdalam isu – isu sosial politik tanpa memperdalam masalah – masalah keislaman. Yang demikian bukan karakter KAMMI. Karena, selain memperdalam masalah keislaman, KAMMI juga selalu memperdalam pehaman – pemahaman tentang sosial politik baik dari segi pemikiran maupun praksis gerakan, yang itu semua merupakan pegejawantahan KAMMI sebagai gerakan politik ekstraparlementer.

Kita juga melihat banyak mahasiswa atau organisasi mahasiswa yang berkutat dan disibukkan pada masalah – masalah akademik saja tanpa memperhatikan nilai – nilai dakwah. Atau sebaliknya, banyak organisasi keislaman atau organisasi dakwah yang melupakan sisi – sisi pengembangan akademik dan keilmuan. Yang demikian juga bukan karakter KAMMI. Karena, selain sebagai organisasi keislaman yang aktivitasnya merupakan aktivitas dakwah, KAMMI juga melakukan pendalaman dalam bidang keilmuan dan kompetensi bidang kader – kadernya untuk mencapai salah satu kompetensi kritis Muslim Negarawan: Kepakaran dan Profesionalisme.

Kita juga melihat banyak mahasiswa atau organisasi yang orientasi dan pembahasannya hanya permasalahan sekup kampus saja tanpa menyentuh pembahasan permasalahan – permasalahan bangsa dan negara yang sekupnya lebih luas. Atau sebaliknya, mereka lebih sibuk memikirkan permasalahan – permasalahan negara sehingga lupa pada lingkup kampus tempat mereka berada. Yang demikian juga bukan karakter KAMMI. Karena, Selain membahas isu – isu kampus, KAMMI juga intens membahas isu – isu di luar kampus dari sekup daerah sampai nasional sebagai implementasi KAMMI sebagai Gerakan Sosial Independen yang tak terpisahkan dari masyarakat dan bangsa indonesia.

(Bersambung...)

::Dody Arief Krisnawan::
Read more »

Selasa, 12 Oktober 2010

Jalan Sunyi Para Pejuang

Hanya ada dia dan Rabbnya. Tidak ada yang lain yang menyertainya. Ia sendiri. Sepi. Di tepian malam yang sunyi. Itulah jenak – jenak tempat para pejuang menghimpun energi langit untuk disemai di muka bumi. Itulah bentaran saat dimana ia kembali kepada ruhnya. Melihat bangunan keimanannya yang sudah mulai sedikit terkoyah. Melihat Lebih dalam. Lebih dekat. Lebih cermat. Di sunyi itu, bersama Rabbnya, ia kembali meyusun ulang bangunan keimanannya menjadi bangunan iman yang megah, indah, mempesona. Di malam itu ia bermi’raj menghadap Tuhannya. Bukan sekedar pertemuan biasa. Itulah saat jiwa bertemu dengan Tuhannya jiwa. Itulah saat ruh bertemu dengan sang Pemilik Ruh. Syahdu. Mengharu biru. Di sinilah awal mula cerita indah jiwa – jiwa yang tercerahkan.

Inilah majelis sunyi para pejuang. Inilah halaqoh cinta para pecinta. Qiyamullail. Para pejuang dakwah senantiasa merutinkan ia sebagai amalan yang tiada pernah terputuskan. Mereka sadar, Dakwah adalah jalan berat yang harus dilalui oleh para pejuang Keadilan. Di perjalanan berat nan panjang itu, salah satu sumber energi dahsyat sebagai bekal perjuangannya adalah qiyamullail. Perjuangan tidak selalu bercerita tentang kekuatan fisik. Seberapa banyak sahabat nabi dari kalangan tua dan lemah dari segi fisik namun mereka berada dalam barisan depan dalam jihad fi sabilillah. Sebaliknya, seberapa banyak pula kaum muslimin (munafiq) yang kuat fisiknya namun tak mampu menggerakkan kakinya menuju arena jihad. Perjuangan selalu bertutur tentang kekuatan ruh dan keimanan. Dan sumber terbesar kekuatan itu berada dalam saat – saat sunyi di akhir malam.

Sebelum Rasulullah diberi mandat untuk menyeru kaumnya secara terang – terangan melalui Al Mudatstsir, jauh sebelumnya Allah telah menurunkan Al Muzammil sebagai bekal dan training Allah SWT kepada sang Rasul. Allah tidak memberi persiapan Rasul dengan teori retorika sehingga dengan gaya bahasanya bisa mengikat kaum quraisy di mekkah pada saat itu. Tidak juga Allah memberi bekal harta yang banyak sehingga memberinya kedudukan tinggi diantara kaumnya. Bukan. Bukan ini. Trainming itu bernama Al Muzzammil. Ia adalah training persiapkan secara khusus kepada sang Rasul oleh Allah SWT melalui Qiyamullail dan Tilawah Al Quran.

Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit. atau lebih dari seperdua itu. dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu Perkataan yang berat. (QS. Al Muzzammil 1 – 5)

Sebab Allah akan menurunkan ‘perkataan yang berat’. Perkataan yang berbobot. Perkataan yang menusuk hati. Maka dibutuhkan ruh yang kuat untuk para pengembannya. Semakin kuat ruhnya, semakin banyak ‘perkataan berat’ yang mampu ia bawa dan ia sampaikan. Jika ruhnya kering dan lemah, bagaimana ia mampu membawa ‘perkataan berat’ untuk disampaikan dan didakwahkan? Kata – katanya menjadi kosong. Tidak memiliki ruh. Kering. Hampa tanpa makna. Dan mungkin inilah ‘bobot’ kata – kata kita saat ini. Kosong tanpa ruh. Sedangkan tempat untuk mengisi kekuatan Ruh dan menjemput ‘perkataan yang berat’ itu lebih nyaman kita habiskan untuk tidur atau begadang yang sia – sia. Maka ketika seruan kita jarang mendapatkan respon dari orang yang kita seru, jangan melulu menyalahkan mereka. Jangan – jangan saking ‘kering’nya perkataan kita, perkataan itu tidak sampai ke hati mad’u, tapi terbang hilang tertiup angin yang semilir. Wallahu a’lam.

(Dody Arief Krisnawan)

Read more »

Tak Tahu Tarus ku Beri Judul Apa

Tiba – tiba ia memelukku. Hangat. Sampai terasa dalam hati hangatnya. Ahh, mungkin ini yang namanya ukhuwah. Hangat. Dan indah. Walaupun kita belum pernah mengenal sebelumnya, senyumnya begitu khas seperti sudah lama aku mengenalnya. Mungkin lantunan rabithoh yang sering kita lantunkan saling mengikat hati kita sebelum ikatan pertemuan ini.

Cerita persaudaraan selalu bertutur tantang cerita cinta. Tapi aku tak ingin bercerita tentang cerita diriku sendiri. Terlalu egois. Aku ingin bercerita tentang anda dan kita semua. Tentang ikatan ini. Tentang persaudaraan ini. Aku tak tau ini ceita bahagia atau cerita sedih. Aku juga belum tau harus memberi judul apa tulisan ini. Ini hanya curahan hati yang tak sanggup terurai dalam kata. Hanya susunan huruf inilah yang menjadi pengungkap gejolak jiwa. Penyata rasaku pada kalian. Yang mungkin tidak bisa sesering ku ungkapkan.

Jika orang lain memulai cerita persahabatan setelah saling mengenal, kita sudah memulai cerita indah itu jauh sebelum kita dipertemukan secara fisik. Jauh sebelum kita saling mengenal. Pertemuan dan perkenalan serasa hanya menjadi sebuah deklarasi cinta kita. Pertemuan menjadi ajang pelampiasan rindu yang sangat setelah sekian lama ruh kita telah bertemu dalam lantunan doa – doa kita. Semua bercerita tentang keindahan. Bahkan cerita kesedihan itu telah berganti rasa menjadi manis. Indah. Semua cerita itu terangkum dalam kosa kata besar bernama ‘persaudaraan’.

Ini kisah nyata. Dulu ada seorang ikhwah pada saat itu sedang kehabisan dana bulanannya karena seluruh kiriman uang dari orang tuanya ia pakai untuk kegiatan daurah di sebuah lembaga dakwah. Ketika ditanya sahabatnya bagaimana ia makan sebulan ke depan, dengan ringan ia mengatakan, “aku punya Allah di hatiku dan saudara – saudara di sekitarku!!”. Ternyata benar apa yang menjadi keyakinannya. Allah membantunya melalui tangan saudara – saudara di sekitarnya. Ada beberapa ikhwah yang menaggung makan dan keperluan kuliahnya selama sebulan. Dan masih banyak cerita indah lainnya yang belum tidak aku sampaikan di sini.

Read more »

 

Goresan pena

Kabar berita

Harokatuna