Tampilkan postingan dengan label Surat-surat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Surat-surat. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Oktober 2011

Surat Dari Abdullah Al Ghaza (Pejuang HAMAS) Kepada Indonesia

“Untuk saudaraku di Indonesia, mengapa saya harus memilih dan mengirim surat ini untuk kalian di Indonesia. Namun jika kalian tetap bertanya kepadaku, kenapa? Mungkin satu-satunya jawaban yang saya miliki adalah karena negri kalian berpenduduk muslim terbanyak di punggung bumi ini, bukan demikian saudaraku?

Di saat saya menunaikan ibadah haji beberapa tahun silam, ketika pulang dari melempar jumrah, saya sempat berkenalan dengan salah seorang aktivis dakwah dari jama’ah haji asal Indonesia, dia mengatakan kepadaku, setiap tahun musim haji ada sekitar 205 ribu jama’ah haji berasal dari Indonesia datang ke Baitullah ini. Wah, sungguh jumlah angka yang sangat fantastis dan membuat saya berdecak kagum.

Lalu saya mengatakan kepadanya, saudaraku, jika jumlah jama’ah haji asal Gaza sejak tahun 1987 sampai sekarang digabung, itu belum bisa menyamai jumlah jama’ah haji dari negara kalian dalam satu musim haji saja. Padahal jarak tempat kami ke Baitullah lebih dekat dibanding kalian. Wah pasti uang kalian sangat banyak, apalagi menurut sahabatku itu ada 5% dari rombongan tersebut yang memnunaikan ibadah haji yang kedua kalinya, Subhanallah.

Wahai saudaraku di Indonesia,

Pernah saya berkhayal dalam hati, kenapa saya dan kami yang ada di Gaza ini, tidak dilahirkan di negri kalian saja. Pasti sangat indah dan mengagumkan. Negri kalian aman, kaya, dan subur, setidaknya itu yang saya ketahui tentang negri kalian.

Pasti ibu-ibu disana amat mudah menyusui bayi-bayinya, susu formula bayi pasti dengan mudah kalian dapoatkan di toko-toko dan para wanita hamil kalian mungkin dengan mudah bersalin di rumah sakit yang mereka inginkan.

Ini yang membuatku iri kepadamu saudaraku, tidak seperti di negri kami ini. Tidak jarang tentara Israel menahan mobil ambulanceyang akan mengantarkan istri kami melahirkan di rumah sakit yang lebih lengkap alatnya di daerah Rafah. Sehingga istri kami terpaksa melahirkan di atas mobil, ya di atas mobil saudaraku.!

Susu formula bayi adalah barang langka di Gaza sejak kami diblokade 2 tahun yang lalu, namun istri kami tetap menyusui bayi-bayinya dan menyapihnya hingga 2 tahun lamanya, walau terkadang untuk memperlancar Asi mereka, istri kami rela minum air rendaman gandum.

Namun, mengapa di negri kalian, katanya tidak sedikit kasus pembuangan bayi yang tidak jelas siapa ayah dan ibunya. Terkadang ditemukan mati di parit-parit, selokan, dan tempat sampah. Itu yang kami dapat dai informasi di televisi.

Dan yang membuat saya terkejut dan merinding, ternyata negri kalian adalah negri yang tertinggi kasus aborsinya untuk wilayah Asia. Astaghfirullah. Ada apa dengan kalian? Apakah karena di negri kalian tidak ada konflik bersenjata seperti kami disini, sehingga orang bisa melakukan hal hina seperti itu? Sepertinya kalian belum menghargai arti sebuah nyawa bagi kami disini.

Memeang hampir setiap hari di Gaza sejak penyerangan Israel, kami menyaksikan bayi-bayi kami mati. Namun, bukanlah di selokan-selokan atau got-got apalagi di tempat sampah. Mereka mati syahid saudaraku! Mati syahid karena serangan roket tentara Israel!

Kami temukan mereka tak bernyawa lagi di pangkuan ibunya, di bawah puing-puing bangunan rumah kami yang hancur oleh serangan Zionis Israel. Saudaraku, bagi kami nilai seorang bayi adalah aset perjuangan kami terhadap penjajah Yahudi. Mereka adalah mata rantai yang akan menyambung perjuangan kami memerdekakan negri ini.

Perlu kalian ketahui, sejak serangan Israel tanggal 27 Desember 2009 kemarin, saudara-saudara kami yang syahid sampai 1400 orang, 600 di antaranya adalah anak-anak kami, namun sejak penyerangan itu pula sampai hari ini, kami menyambut lahirnya 3000 bayi baru di jalur Gaza, dan Subhanallah kebanyakan mereka adalah anak laki-laki dan banyak yang kembar, Allahu Akbar!

Wahai saudaraku di Indonesia,

Negri kalian subur dan makmur, tanaman apa saja yang kalian tanam akan tumbuh dan berbuah, namun kenapa di negri kalian masih ada bayi yang kekurangan gizi, menderita busung lapar. Apa karena sulit mencari rizki disana? Apa negri kalian diblokade juga?

Perlu kalian ketahui saudaraku, tidak ada satupun bayi di Gaza yang menderita kekurangan gizi, apalagi sampai mati kelaparan, walau sudah lama kami diblokade. Sungguh kalian terlalu manja! Saya adalah pegawai tata usaha di kantor pemerintahan HAMAS sudah 7 bulan ini belum menerima gaji bulanan saya. Tetapi Allah SWT yang akan mencukupkan rizki untuk kami.

Perlu kalian ketahui pula, bulan ini saja ada sekitar 300 pasang pemuda baru saja melangsungkan pernikahan. Ya, mereka menikah di sela-sela serangan agresi Israel. Mereka mengucapkan akad nikah diantara bunyi letupan bom dan peluru, saudaraku.

Dan Perdana Menteri kami, Ust Isma’il Haniya memberikan santunan awal pernikahan bagi semua keluarga baru tersebut.

Wahai saudaraku di Indonesia,

Terkadang saya pun iri, seandainya saya bisa merasakan pengajian atau halaqah pembinaan di negri antum (anda). Seperti yang diceritakan teman saya, program pengajian kalian pasti bagus, banyak kitab mungkin yang kalian yang telah baca. Dan banyak buku-buku pasti sudah kalian baca. Kalian pun bersemangat kan? Itu karena kalian punya waktu.

Kami tidak memiliki waktu yang banyak disini. Satu jam, ya satu jam itu adalah waktu yang dipatok untuk kami disini untuk halaqah. Setelah itu kami harus terjun ke lapangan jihad, sesuai dengan tugas yang diberikan kepada kami.

Kami disini sangan menanti-nantikan saat halaqah tersebut walau hanya satu jam. Tentu kalian lebih bersyukur. Kalian punya waktu untuk menegakkan rukun-rukun halaqah, seperti ta’aruf, tafahum, dan takaful disana.

Halafalan antum pasti lebih banyak daripada kami. Semua pegawai dan pejuang HAMAS disini wajib menghapal Surah Al-Anfal sebagai nyanyian perang kami, saya menghafal di sela-sela waktu istirahat perang, bagaimana dengan kalian?

Akhir Desember kemarin, saya menghadiri acar wisuda penamatan hafalan 30 Juz anakku yang pertama. Ia merupakan diantara 1000 anak yang tahun ini menghafal Al-Qur’an dan umurnya baru 10 tahun. Saya yakin anak-anak kalian jauh lebih cepat menghapal Al-Qur’an ketimbang anak-anak kimi disini. Di Gaza tidak ada SDIT (Sekolah Dasar Islam Terpadu) seperti di tempat kalian yang menyebar seperti jamur di musim hujan. Disini anak-anak belajar diantara puing-puing reruntuhan gedung yang hancur, yang tanahnya sudah diratakan, diatasnya diberi beberapa helai daun kurma. Ya, di tempat itu mereka belajar, saudaraku. Bunyi suara setoran hafalan Al-Qur’an mereka bergemuruh dianatara bunyi-bunyi senapan tentara Israel. Ayat-ayat jihad paling cepat mereka hafal, karena memang didepan mereka tafsirnya. Langsung mereka rasakan.

Oh iya, kami harus berterima kasih kepada kalian semua, melihat solidaritas yang kalian perlihatkan kepada masyarakat dunia. Kami menyaksikan aksi demo-demo kalian disini. Subhanallah, kami sangat terhibur. Karena kalian juga merasakan apa yang kami rasakan disini.

Memang banyak masyarakat dunia yang menangisi kami disini, termasuk kalian yang di Indonesia. Namun, bukan tangisan kalian yang kami butuhkan , saudaraku. Biarlah butiran air matamu adalah catatan bukti akhirat yang dicatat Allah sebagai bukti ukhwah kalian kepada kami. Doa-doa dan dana kalian telah kami rasakan manfaatnya.

Oh iya, hari semakin larut, sebentar lagi adalah giliran saya menjaga kantor, tugasku untuk menunggu jika ada telpon dan fax yang masuk. Insya Allah, nanti saya ingin sambung dengan surat yang lain lagi. Salam untuk semua pejuang-pejuang Islam dan ulama-ulama kalian.

Abdullah Al Ghaza
Read more »

Sabtu, 16 Oktober 2010

Surat Untuk Para Pemimpin Negeri Ini (1)

Maha suci bagi Allah yang mengangkat derajat bagi orang – orang yang Ia kehendaki dan menjatuhkan derajat bagi orang yang Ia kehendaki. Syukur Alhamdulillah saya sampaikan kepada Allah atas nikmat indonesia yang luar biasa besar dan kaya. Saya selalu berdoa di setiap sujud saya, untuk anda para pemimpin indonesai agar Allah senantiasa memberi kekuatan kepada anda dalam memimpin indonesia yang luar biasa besar dan kaya ini, semoga anda bisa memimpin kami dengan adil. Agar anda bisa menyejahterakan kami dengan kesejahteraan yang hakiki. Saya juga senantiasa berdoa agar Allah memudahkan anda pada saat sidang pertanggungjawaban di depan Allah SWT tentang kepemimpinan anda kelak di yaumil hisab.. Amin..

Maha suci Allah yang telah mengutus Rasulullah saw sebagai rasul sekaligus teladan kepemimpinan bagi seluruh umat manusia. Yang membimbing dengan ketauladanannya bagaimana menjadi seorang mukmin sejati. Dialah tauladan pemimpin sejati. Saya juga berdoa kepada Allah agar Allah senantiasa memberikan Taufiq kepada anda agar bisa meneladani Rasulullah saw dan khulafaur rasyidin1 dalam memimpin bangsa ini. Allaahumma sholli ala muhammad. Wa ‘ala aali muhammad.

Terima kasih saya ucapkan kepada anda yang telah bersedia membaca surat ini dari salah seorang rakyat anda yang selalu mencintai anda. Sebagai bentuk rasa cinta saya pada anda wahai para pemimpin bangsa, maka kutulis surat ini. Ini bukan surat tuntutan. Ini bukan surat aduan. Ini bukan surat cacian. Ini juga bukan surat permohonan. Sekali lagi ini adalah surat cinta!! Senyum itu tanda cinta. Dan surat ini berisi berjuta senyum untuk anda. Pujian itu tanda cinta. Dan surat ini berisi sepenggal pujian untuk anda. Nasehat itu tanda cinta. Dan surat ini berisi nasehat untuk anda. Marah itu cinta. Dan surat ini berisi seutas marah untuk anda. Semuanya atas dasar cinta dan kasih sanyang saya kepada anda. Di awal surat ini saya ingin ungkapkan, “uhibbukum fillah2”
Surat ini untuk anda wahai Bapak Presiden, untuk anda wahai para Menteri, untuk anda wahai wakil rakyat di DPR, untuk anda wahai penegak hukum, untuk anda para pejabat pemerintahan dari pusat sampai daerah. Ini surat dari saya yang mencintai anda di tengah – tengah masyarakat yang mulai membenci anda. Ini surat tanda cinta dari saya yang peduli di tengah rakyat anda yang mulai acuh. Atas dasar cinta, kutilis surat ini.


Bismillahirrahmanirrahim

Kumulai surat ini dengan menyebut nama Allah, Tuhan ku dan Tuhan anda. Sekedar sebagai pengingat bahwa kita menyembah Tuhan yang sama. DihadapanNya kita sama. Jabatan tak menjadi pembeda diantara kita dihadapanNya. Hanya ketaqwaan yang membedakan kita. Siapa yang paling BERTAQWA, ialah yang paling mulia di sisiNya. Saya berharap ketika anda membaca surat ini, anda dalam keadaan bertaqwa kepada Allah dengan ketaqwaan yang murni.

Wahai para pemimpin negeri yang saya cintai!!!

Kami rakyat sebenarnya senang dengan perkembangan politik dan demokratisasi di negeri ini. Penghargaan bagi anda para pemimpin yang telah membuka dengan lebar kran – kran demokrasi di negeri ini setelah sebelumnya kami hidup dalam keterkekangan politik. Namun anda menyederai demokrasi yang sedang kita bangun. Sampai – sampai kami bosan dengan parodi politik anda di eksekutif maupun di legislatif yang setiap hari anda pertontonkan kepada kami. Apakah anda mau mengajarkan kami untuk menjadi rakyat yang berwajah dua? Apakah anda mau mengajarkan rakyat anda sebagai penipu? Apakah anda mau mengajarkan rakyat anda untuk saling tengkar? Anda tak sedikitpun mengajarkan kami untuk berakhlak yang baik. Apa lagi mengajarkan kami tentang keadilan.

Yang saya ketahui, anda sudah tidak lagi menyuarakan suara kami. Anda wakil rakyat! Juga anda presiden dan menteri - menterinya! Anda lebih suka menyuarakan kepentingan anda sendiri. Atau kepentingan pihak yang menguntungkan pribadi sendiri. Dari perilaku anda yang setiap hari kami lihat di TV mencerminkan perilaku yang jauh dari janji saat kampanye dulu. Sebagian kami menyesal. Kami memohon ampun kepada Allah semoga kami tidak menanggung dosa dari apa yang anda kerjakan karena kamilah yang memilih anda. Sebagai bentuk pertanggungjawaban kami, maka kami menyerukan kebenaran kepada anda wahai wakil kami, wahai pelayan kami (pemimpin adalah pelayan rakyat)!! Bagi kami, ini adalah jihad terbesar, menyuarakan kebenaran dihadapan penguasa yang dzolim (al hadits).

Setiap keputusan – keputusan yang anda ambil melalui sandiwara – sandiwara di sidang – sidang wakil rakyat sarat kepentingan individu anda. Seolah anda pada saat itu memikirkan diri sendiri, mana yang menguntungkan bagi anda. Seolah kami tidak ada. Seolah kami tidak menonton anda. Anda harus ingat, apapun yang nada lakukan, rakyat sekarang sudah bisa melihat dengan jelas. Tentu Allah yang lebih detail penglihatannya sampai pada yang tersembunyi. Dalam hatipun Allah tetap melihat. Kami serahkan itu pada Allah apa yang kami tidak ketahui. Kami hanya menilai anda melalui apa yang kami lihat.

Sikap hidup mewah dan menganggarkan dana rakyat untuk memperkaya diri anda adalah suatu yang melukai hati kami. Di tengah kondisi kami yang serba berkesusahan, tolong, jangan jadikan kami naik pitam dengan kegiatan menghambur – hamburkan uang rakyat melalui kegiatan anda yang tidak penting. Kami ikhlas uang kami anda pergunakan. Kami rela. Yang kami tidak rela, uang kami anda pergunakan yang tidak penting dan tidak ada hubungannya dengan kami. Selain itu, berita – berita yang mengabarkan anda korupsi di sana – sini membuat kami sakit. Sakit. Bahkan marah. Seandainya rakyat punya hukum, kami akan menhukumi anda dengan hukum kami sendiri: MATI. Kami hampir sudah tak percaya penegak hukum. Hukum di negeri ini bisa anda jual belikan. UU dan hukum bisa anda buat sesuka hati anda dan sesuai kebutuhan anda. Saya hanya ingin mengingatkan azab Allah yang pedih bagi anda yang memakan harta rakyat dengan jalan yang dzolim.

Partai – partai politik yang diklaim sebagai penyalur aspirasi rakyat tak sedikitpun aspirasi kami yang disuarakan. Mereka lebih suka berebut jabatan untuk kepentingan pribadi masing – masing. Kami merasa ditipu, kami merasa di bohongi. Tolong wahai para elit partai!! Kami memang pragmatis. Kami memang mudah memberikan suara hanya dengan uang yang tak seberapa. Tapi tolong..!! suara kami. Sampaikan dengan lantang!! Jika kondisi seperti ini berlangsung terus. Yang saya khawatir pemilu akan musnah menjadi sejarah karena tak ada laggi rakyat yang berpartisipasi. Saat ini kami sudah mulai cerdas. Kami sudah bisa melihat mana yang benar – benar membela kami.

Walaupun demikian, kami berterima kasih pada partai – partai politik yang ada di negeri ini yang telah mencerdaskan kami rakyat kecil akan politik. Terima kasih telah membuka mata kami. Tapi sayang bukan melalui sekolah – sekolah politik anda, bukan melalui seminar – seminar anda, bukan melalui pengajaran – pengajaran anda. Kami semakin tahu hakikat politik dari tingkah laku anda di DPR, kami tahu praktek politik dari apa yang anda lakukan di pemerintahan negeri ini. Sayang seribu sayang. Pengetahuan tentang politik itu tidak malah menjadikan kami semakin aktif dalam berpolitik, bukan malah semakin mencintai politik. Pelajaran politik dari anda semua membuat sebagian besar kami malah antipati pada politik dan menjauh dari kehidupan berpolitik.

Wahai para penegak hukum negeri ini!!

Kami memang tak paham masalah hukum. Namun bukan berarti kami tidak bisa menilai apa yang anda lakukan pada hukum di negeri ini. Sungguh mudahnya keputusan berubah hanya karena tumpukan uang yang tak seberapa. Kami bisa melihat berapa ‘harga diri’ anda dari berapa besar orang membeli keadilan dalam jiwa anda. Sehingga, kini keadilan itu memihak kepada siapa yang bayar, bukan siapa yang benar.

Apresiasi besar atas penegakan hukum untuk prestasinya mengungkap kasus – kasus besar negeri ini kemarin berganti menjadi kekecewaan besar atas terungkapnya mafia hukum dan peradilan. Pengadilan bak pasar tempat tawar menawar hukum. Jaksa dan hakim seperti pedagang yang menjual keadilan. Kami malu. Malu. Sedih. Sangat prihatin. Bagaimana kami percaya lagi pada anda? Jangan salahkan jika ada maling yang mati dihakimi massa. Jangan salahkan ada prampok yang tewas di hadapan hukum rimba masyarakat. Peristiwa itu bukan menandakan masyarakat bodoh akan hukum. Mungkin itu akibat semakin cerdasnya masyarakat setelah melihat hukum yang anda tegakkan di negeri ini.

Kami menghimbau pada anda penegak hukum, tolong tegakkan hukum ini dengan adil. Tunjukkan bahwa hukum memandang sama semua warga negara senagai mana amanah UUD 1945. Tidak ada yang membedakan antara si kaya dan si miskin. Si pejabat dan rakyat. Jangan mudah terbeli dengan kekayaan dunia yang melenakan. Tidak bahagiakah anda dengan balasan bagi penegak hukum yang adil yang telah Allah janjikan kepada anda??
(bersambung.. insya Allah)

(Dody Arief Krisnawan)
Read more »

 

Goresan pena

Kabar berita

Harokatuna