Jika kita membicarakan atau membaca biografi tentang sayyid Quthub, sebagian besar penulis lebih banyak menulis biografi atau pemikirannya dalam konteks pergerakan dakwah dan jihad. Buku – buku yang beliau tulis sendiripun sebagian besar berisi berbagai pemikirannya yang kini banyak menjadi rujukan kebanyakan aktivis pergerakan dakwah.
Dalam episode kehidupannya, terdapat episode dimana ia mengalami ‘tragedi’ cinta yang tidak banyak ditulis. Dr Abdul Fattah Al Khalidi yang menulis tesis tentang kehidupan Sayyid Qutb menceritakan tragedi cinta Sayyid Qutb. Begini “tragedi” cintanya:
Suatu saat, ia jatuh cinta kepada seorang gadis di desanya. Ia pun berniat untuk segera meninang sang gadis. sebelum kesampaian niatnya tersebut, ia diharuskan pergi ke luar negeri untuk menuntut Ilmu dan berniat melanjutkan niatnya ketika kembali ke mesir. Namun takdir berkata lain, ketika ia kembali ke mesir, sang gadis telah menikah dengan orang lain. Peristiwa ini sangat membuatnya bersedih.
Ia tidak ingin berlarut – larut dalam kesedihannya dan harus segera bangkit. Ia tidak ingin seperti Qois yang ‘majnun’ karena ditinggal Laila. Baginya, kehilangan seorang gadis bukan berarti kehilangan cinta. Ia ingin memulai lagi kisah cintanya dari awal. Akhirnya setelah beberapa saat, ia jatuh cinta lagi dengan seorang gadis Kairo. Walaupun tidak terlalu cantik dibanding gadis yang pertama, sang gadis tersebut terkenal sebagai gadis yang sholehah dan memiliki komitmen keislaman yang kuat.
Bangunan harapan yang tinggi untuk segera menggenapkan setengah dari agamanya kembali harus runtuh. Suatu saat sang gadis menceritakan bahwa di masa lalunya, ia pernah menjalin cinta dengan seorang pemuda. Sayyid Quthub yang idealis itu hanya menginginkan pasangan hidup yang bukan hanya gadis secara fisik, namun juga hatinya. Akhirnya Sayyid Qutb membatalkan menikahi gadis tersebut. Hal ini membuat Sayyid Qutb sedih cukup lama. Sampai kemudian ia putuskan untuk menerima kembali wanita tersebut dan mencoba lebih realistis dalam berfikir. Namun apa yang terjadi?? Ditolak. Inilah yang kemudian membuat Sayyid menulis roman-roman kesedihannya.
Hal itu membuat Sayyid Quthub sadar, bahwa ia tidak hidup dalam ruang idealitas. Ada jurang lebar antara idealitas dengan realitas tempat ia berpijak sekarang. Kalau cinta tak mau menerimanya, biarlah ia mencari energi lain yang lebih hebat dari cinta. “Allah”, begitulah Ustadz Anis Mata memberi kesimpulan. Energi itulah yang kemudian membawanya ke penjara selama 15 tahun. Menulis karya monumentalnya Tafsir “Fi Zilaalil Qur’an” (dalam naungan al qur’an). Dan meninggal di tiang gantungan. Sendiri! Tidak ada air mata, tidak ada kecupan, tidak ada sentuhan wanita.
Kamis, 14 Juli 2011
Kisah Cinta Sayyid Quthub
11.19
Thoriq Ad Daawiy


0 komentar:
Posting Komentar