Kamis, 14 Juli 2011

Rindu padamu.. duhai kekasihku..

Hening. Khusyuk. Semua jamaah hanyut dalam keheningan dan kekhusyu’an di belakang Rasulullah saw yang bertindak sebagai imam sholat isya’ malam itu. Salah satu jama’ah terlihat meneteskan air mata membasahi pipi kiri dan kanannya. Suasana terlampau syahdu. Bacaan menghujam dan merasuk ke dalam hati yang paling dalam. Salah satu Jamaah tersebut semakin tertunduk hanyut dalam kekhusyu’an. Hingga tiba – tiba secara tidak sadar ia terjatuh.
Gedubrak..
“Ah.. ternyata hanya mimpi”. Doni jatuh dari tempat tidurnya akibat mimpi aneh itu. Ia sempat tertegun agak lama, menyelam ke alam pikiran memikirkan mimpi tersebut. Ia melihat jam, masih menunjukkan jam 01.00, artinya waktu tidur dan merayakan alam mimpi masih panjang. Ia pun melanjutkan tidurnya di tengah udara dingin yang menyelimuti malam.
Bagi sebagian besar orang islam, mimpi bertemu Rasulullah saw mungkin menjadi sesuatu mimpi yang diimpikan sebagai bentuk rasa rindu dan kecintaannya. Tapi tidak bagi Doni. Doni lahir dari keluarga kaya yang hampir tidak pernah diajarkan tentang agama dengan baik. Tidak pernah dikenalkan dengan Rasulullah saw secara mendalam apalagi sampai merindukan dan mencintainya. Dan inilah yang dirasa aneh oleh Doni. Rasulullah yang selama ini tidak pernah ada di pikirannya, kenapa bisa sampai terbawa mimpi. Ditambah lagi mimpinya adalah sholat, sesuatu yang hamper tidak pernah ia lakukan.
Mimpi itu sungguh sangat berpengaruh bagi perilaku Doni akhir – akhir ini. Ia menjadi sering merenung. Duduk sendiri. Bahkan kini ia sering ke perpustakaan hanya untuk menyendiri. Perilaku Doni yang aneh ini membuat gempar seisi kampus. Selama ini, Doni dikenal oleh hampir seluruh mahasiswa di fakultasnya, terutama di jurusannya. Bukan karena prestasinya, bukan karena kegantengannya atau karena dia kaya, tapi karena kenakalan dan ulah – ulahnya yang sering membuat onar. Perubahan sikap Doni ini menjadi buah bibir layaknya berita gosip – gosip artis yang sering menghiasi hampir di setiap stasiun televisi. Banyak gosip yang berkembang, mulai dari diputus pacar sampai kesambet jin. Bagi Doni, gosip – gosip itu ditanggapi dengan cuek bebek, tidak dihiraukan sedikitpun. Perhatiannya lebih banyak tertuju pada mimpinya yang super aneh itu. Saking seriusnya otak dan fikirannya seolah tidak sanggup bekerja terlalu keras menuruti kemauan hatinya yang galau. Akhirnya iapun jatuh sakit. Badannya panas. Tubuhnya lemas. Ia hanya bisa berbaring tak berdaya di kamanya.
Sudah hampir 5 hari kampus tanpa Doni. Dosen dan mahasiswa di jurusannya sebagian besar merasa aman dan terbebas dari pengacau kampus, sebagian lagi merasa kashian dengan apa yang dialami oleh Doni akhir – akhir ini, terutama dari teman – teman kelas tingkatnya. Aku adalah salah satu teman kelas Doni. Hari itu aku berinisiatif untuk mengunjungi Doni di rumahnya.
Selepas pulang kuliah, jam 4 sore aku sudah berada di depan rumah Doni. Rumahnya begitu besar dan sangat jauh berbeda dengan kondisi rumahku yang terlampau sederhana. Ini pertama kalinya aku ke rumah Doni semenjak setahun aku mengenalnya.
“Assalamu’alaikum…” Aku memberi salam. Tiga kali aku mengucap salam namun belum ada yang menjawab. Ketika aku membalikkan badan berniat untuk pulang, tiba – tiba ada yang membuka pintu.
“Mencari siapa mas??” Seorang ibu bertanya dengan senyum yang sangat manis. Dari parasnya aku tahu kalau dia adalah ibu Doni.
“Mau bertemu Doni tante, saya teman kampusnya..”Jawabku dengan senyum yang tak kalah ramah.
Nampaknya sang ibu termenung sejenak sambil melihatku lebih dalam. Lebih lama. Sepertinya terheran. Tapi kenapa?
“Ada apa tante??” Tanyaku mencari tahu.
“Oh, ma’af. Ya silakan masuk. Doni ada di kamar. Langsung ke kamarnya aja.” Jawaban sang ibu makin membuatku penasaran dengan kelakuannya barusan. Ibu Doni menunjukkan kamar Doni yang berada di lantai 2. Sekali lagi, aku terkagum – kagum dengan rumah Doni yang sangat mewah bagiku.
“Don, ada temen kamu nih..” Kata ibunya di depan pintu.
“Suruh masuk ma..” Teriak Doni dari dalam kamar. Suaranya khas. Keras. Tegas. Ketika aku masuk, Doni terdiam sesaat, sama dengan kelakuan ibunya tadi. Hal itu tentu semakin membuatku penasaran.
“Gimana kabar lo Don, kampus sepi nggak ada lo..??” Kumulai dengan obrolan santai dan ringan.
“Bisa aja lo Rif, paling – paling di kampus sedang ada pesta besar.. pada bersyukur nggak ada gue, nggak ada yang bikin onar lagi kayak biasanya.” Ujar Doni dengan sedikit tersenyum. Yang jelas kali ini senyumnya beda dari biasanya.
“Sakit apa lo Don?? Gue kira lo nggak bisa sakit Don, eh, ternyata bisa sakit toh..” candaanku mencoba menghibur Doni.
“Enak aja lo Rif, emangnya gua apaan gak bias sakit. Gue kan manusia, ya wajarlah kalo bisa sakit. Normal donk…” jawabnya dengan setengah tertawa.
Walaupun kami tidak begitu akrab, suasana sore itu membuat kami seperti teman akrab. Jujur, sebelumnya aku sering dibuat jengkel dengan ulah Doni selama di kampus. Teman – teman seangkatan juga dibuat geram dengan keusilannya. Maka tidak heran jika teman – teman kelas banyak yang menjauhinya. Bukan Cuma teman sekelas, hampir semua mahasiswa di jurusan dan fakultas juga begitu. Aku lihat ia cuma berteman dengan geng anak – anak yang suka bikin onar di kampus, dan itu tidak banyak, hanya sekitar 5 – 10 orang saja.
“Terus terang, gue kaget lo dateng, selama gue sakit belum ada yang kemari jenguk gue, bahkan temen – temen geng gue. Lo yang pertama Rif..” kali ini ku lihat mata yang berkaca – kaca. Ini sejarah bagiku. Melihat Doni dengan mata yang berkaca – kaca. Sepertinya awan tangis mau runtuh dari mata Doni.
“Yang bener Don.. dapat hadiah donk..?? kan pengunjung pertama, hehehe” Tanyaku mencoba meyakinkan diri sendiri sambil bercanda pada Doni.
“heheh..Suer..!! Temen –temen gue tu nggak ada yang tulus berteman ama gue, mereka deket karena gua banyak duit.. giliran gue sakit, lo tahu sendiri kan? Pada kabur semua.” Curhat Doni yang belum pernah kudengar sebelumnya.
“Tahu gitu kenapa lo masih berteman ma orang – orang kayak gitu?”
“Gue kesepian Rif gak punya temen, dengan kelakukan gue kayak gini jelas nggak ada yang mau berteman akrab sama gue”.
“Siapa bilang, gue mau kok menjadi temen akrab lo Don!!”
“serius lo Rif??”
“Ya iyalah…”
Kaca – kaca dalam mata Doni kini pecah. Awan tangis pun runtuh. Mengalir. Megalir dengan deras menyirami pipinya dan membasahi hatiku sampai bergetar. Entah itu tanda sedih atau haru. Aku jadi paham sekarang, sikap ibu dan Doni barusan yang sepertinya heran dengan kedatanganku.Ternyata memang ini mengherankan, Ada teman Doni yang datang berkunjung ke rumahnya adalah sebuah sejarah yang mungkin jarang terulang. “Kasian lo Don, lo pasti kesepian selama ini”. Ujarku dalam hati.
“Oh iya Rif, gue mau cerita sesuatu, lo kan anak yang taat beragama, mungkin lo bisa bantu.” Ujar Doni yang membuat aku sedikit kaget, sekaligus tertarik untuk mendengarnya.
“Apaan itu Don??” tanyaku penasaran.
“Mungkin ini yang membuat gue sakit. Mungkin ini pula yang membuat tingkah gue terliat aneh di kampus. Sering terliat diem sama anak – anak. Suka menyendiri.” Doni memulai cerita dengan nada datar dan mengalir lembut.
“Wah, bener banget Don, gosipnya udah ngalahin gossip artis di tipi – tipi loh. Ada yang bilang kamu diputusin pacar. Ada yang bilang lo kesambet jin.” Terangku membenarkan.
“Gue nggak peduli dengan gossip – gossip itu,”
“Terus yang bener gimana? Gue penasaran juga nih Don..”
“Tapi janji jangan cerita sapa – sapa ya. Dan tolong bantu gue kalo lo mampu.”
Setelah itu Doni pun bercerita panjang lebar tentang apa yang dialaminya akhir – akhir ini. Terutama masalah mimpi aneh itu, mimpi bertemu Nabi Muhammad saw. Aku hanya menjadi pendengar setia, sesekali bertanya dan tersenyum membenarkan. Di akhir cerita, ia berharap besar aku bisa membantunya dan memberikan tafsir mimpi itu.
“Wah..hebat loe Don, jarang – jarang ada yang bisa ketemu Nabi dalam mimpi. Gue aja yang kepingin gak mimpi – mimpi, nah lo yang gak pingin malah mimpiin. Kalo masalah tafsir mimpi, gue nggak paham Don, gue kan bukan dukun.” Komentarku di akhir cerita sore itu.
“Itulah keanehannya Rif. Gue sempet berfikir, apa ini saatnya gue tobat ya..??”
“Bisa jadi begitu Rif..Wah bakalan tambah heboh kampus Rif..Gue dukung dan siap bantu deh!!” Aku mencoba memberi semangat.
“niat gue begitu Rif, Tapi jujur gue merasa belum siap, belum siap menghadapi respon orang tua gue, belum siap dengan respon temen – temen geng gue, dan belum siap dengan sikap lo semua di kampus. Gue belum bisa membayangkan Rif..”Kembali, air matanya mengalir.
“OK, saran gue, lo pelan – pelan aja. Semua butuh proses. Nggak perlu ada yang tahu dulu. Gue siap bantu lo buat belajar islam. Diem – diem dulu, nggak usah ada yang tahu. Nah setelah merasa mantap baru lah terserah lo...”
“Bener lo mau bantu gue? Gue ikuti saran lo Rif.”Jawabnya dengan mantap.
“OK kita bicarain ini nanti, lo istirahat and sembuhin diri dulu. Gue pamit aja dulu. Udah mau maghrib.”
“Loe mau sholat ya Rif??” Tanyanya.
“Iya. Itu kewajiban seorang muslim Don”.
“Rif, lo sholat disni ya, aku mau sholat bareng lo..sambil belajar sholat.” Minta Doni dengan penuh harap.
“OK Bro..” jawabku mantap.
“Tapi ntar bacanya jangan keras – keras ya..takut ketahuan mama”
“Beres, bisa diatur.”
Setelah itu aku ajari ia wudhu. Kemudian kami siap untuk sholat maghrib. Ia berdiri tepat di sebelah kananku sebagai makmum. Sekali lagi ini sejarah. Untuk pertama kalinya Doni Sholat, dan aku menjadi imamnya.
“Lo niat dalam hati sholat maghrib, setelah itu ikuti gerakan – gerakan gue dan simak dengan tenang bacaan – bacaan gue.” Terangku sebelum sholat di mulai.
Kamipun mulai sholat di kamar Doni dengan suara bacaan yang agak lirih, namun syahdu. Pelan, namun menghujam. Dalam sholat itu aku membaca surat Al Muzammil. Dengan tenang agar bisa merasuk dalam hati kami berdua. Tak kusangka, setelah sholat usai, ku melihat air mata Doni mengalir membasahi pipinya. Benar – benar sejarah yang tidak akan kulupakan. Mungkin demikian juga bagi Doni.
Setelah selama satu minggu tidak masuk kampus, akhirnya Doni kembali sembuh dan dapat masuk kuliah sepeti biasanya. Doni berangkat dengan wajah yang bebeda. Dengan perasaan yang berbeda. Terpancar kebahagiaan di wajahnya yang belum pernah kulihat sebelumnya. Namun kebanyakan mahasiswa menampakkan mimik yang bebeda. Seolah dalam hati mereka berujar, “wah, masalah datang lagi nih.” Aku memiliki proyek besar dalam beberapa pekan kedepan, yaitu melakukan rekayasa sosial dan politik pencitraan di kampus sehingga mengubah pandangan negatif pada Doni.
Petama yang aku dan Doni lakukan adalah mempunyai petemuan khusus dan rahasia dengan anggota Rohis (Kerohanian Islam) Kampus untuk memperdalam keIslaman setiap sepekan sekali. Kemudian secara rutin aku dan Doni juga terlibat diskusi yang serius dan rahaisa terkait masalah – masalah keIslaman. Intinya awal proyek besar ini adalah merubah pemikiran Doni. Karena yang aku pahami, merubah seseoang itu dimulai dari merubah pola pikir orang tersebut. Semua bejalan dengan penuh kerahasiaan. Yang tahu hanya Aku, Doni, dan beberapa teman – teman dari Rohis. Dalam kesehariannya, Doni juga masih melakukan kebiasaan – kebiasaannya seperti biasanya. Suka bolos pelajaran, usil, dan masih sering kumpul dengan gengnya. Semua by designed, kami tidak ingin melakukan perubahan kepribadian secara frontal dan revolusioner. Cepat dan menyeluruh sekaligus. Karena revolusi yang tak terpola dan tidak terencana dengan baik akan berresiko besar.
Kemudian di pekan – pekan beikutnya secara perlahan ia mulai menjauhi gengnya. Intensitas pertemuan mereka agak berkurang berhubung Doni yang saat ini jarang sekali bolos kuliah. Ia mulai disiplin dalam memperbaiki akademik. Ternyata Doni dasarnya adalah anak yang cedas, terutama matematika dan hitung – hitungan yang rumit itu. Memang di fakultas teknik banyak pehitungan – perhitungan matematika yang membuat mahasiswanya pusing dibuatnya. Bahkan di sebuah ujian mata kuliah matematika, ia mendapat nilai terbaik. Akhirnya pandangan teman – teman dan dosen pada Doni sedikit berubah. Ternyata dibalik kenakalannya, ia adalah mahasiswa yang cerdas. Begitulah kira – kira sangkaan sebagian mahasiswa padanya. Dari situ teman – teman jusannya mulai berani mendekat dan beteman, walau awalnya hanya sekedar menanyakan dan meminta bantuan mengerjakan soal matematika yang bagi sebagian besar di jurusan kami adalah momok, monster paling menakutkan, ditambah lagi dosennya yang killer. Akhirnya kabar tentang kecerdasan Doni ini cepat tersebar seantero fakultas.
Usaha Doni sepeti ini bukannya tanpa kendala dan tantangan. Gengnya yang mulai ditinggalkannya nampaknya mulai berulah karena mulai ditinggal oleh Doni. Lebih tepatnya ditinggal oleh pemasok dana geng tersebut. Awalnya hanya ajakan – ajakan biasa untuk sering – sering berkumpul dan melakukan hal – hal gila seperti biasanya. Karena tidak mendapat respon dari Doni, akhir – akhir ini Doni sering mendapat ancaman dari geng ini. Puncaknya adalah sebuah sore ketika ia pulang kuliah. Di sudut gedung perkuliahannya ia didatangi oleh segerombolan mahasiswa. Ia tahu mereka adalah mantan gengnya. Mereka datang dengan sorot mata yang tajam dan mimik yang menyeramkan. Tanpa basa – basi hujaman pukulan dan tendangan langsung mendarat di perut dan wajah Doni. Hingga ia tersungkur ke lantai. Hingga darahpun menetes dari mulutnya. “Ini akibat bagi penghianat..!!” Makian dari ketua geng tersebut.
Sementara Doni hanya bisa merintih. Tak ada perlawanan sedikitpun darinya karena memang tidak mungkin untuk melawan. Jumlah mereka terlalu banyak. Baru beberapa pekan masuk kuliah, ia harus kembali tergeletak tidak berdaya di rumahnya. Seperti waktu sakit dulu, aku berinisiatif untuk menjenguknya kembali. Namun kini aku tidak sendiri. Teman – teman kelas sebagian besar kuajak untuk ikut menjenguk. Kami sepakat sore setelah kuliah ini kami berkumpul dan berangkat bersama ke rumah Doni.
Sama seperti ketika pertama aku kesini, nampaknya kali ini Doni dan ibunya terheran – heran karena ada temannya yang menemuinya ketika sedang sakit. Kali ini tidak hanya satu orang, hampir sepuluh orang kami bersama – sama menjenguk Doni setelah peristiwa kemarin. Ketika teman – teman asyik ngobrol dengan Doni, aku sempatkan untuk ngobrol dengan ibunya. Dari penuturan sang ibu, kejadian ini sudah sangat sering menimpa Doni, jadi ia tidak kaget lagi. Sering sekali Doni pulang dengan babak belur akibat tawuran dan berantem. Justru yang membuat sang Ibu terkejut adalah kedatangan kami. Selama ini sangat jarang sekali, bahkan tidak pernah, ada teman Doni yang datang ke rumah, apalagi ketika sakit begini. Baru kami, kata sang ibu dengan mata yang berkaca – kaca.
Di kampus, informasi ini sengaja aku sebarkan dan aku besar – besarkan sehingga menjadi berita yang sudah menjadi konsumsi publik. Aku kesankan seolah – olah Doni sebagai pihak yang teraniaya karena melawan Gengnya. Akhirnya simpatipun berdatangan dari berbagai pihak, dari mahasiswa, sampai Dosen, bahkan pihak kampus berjanji untuk mengurus dan menyelesaikan kasus ini. Sepertinya rekayasa dan politik pencitraan ku sukses besar. Doni yang dulunya dikenal sebagai preman kampus pembuat onar, kini dikenal sebagai mahasiswa yang cerdas dan baik kelakuannya. Saat seperti ini adalah sudah saatnya untuk menunjukkan perubahan kepada semua pihak. Doni sudah tak canggung lagi untuk ke masjid sholat berjamaah, ia tak canggung lagi untuk belajar islam di masjid kampus. Satu lagi yang dikenal dari Doni, kini ia dikenal mahasiswa yang taat beragama dan islami.
Dalam sebuah forum diskusi antara aku dan Doni beserta teman – teman di Rohis, ia mengungkapkan bahwa ia masih menyimpan kerinduan yang luar biasa besar kepada Rasulullah paska mimpinya bertemu dengan beliau dulu. Terbersit niatnya untuk umrah dan ziarah ke masjidil haram dan masjid nabawi. Sebenarnya itu sangat mudah bagi Doni yang notabenenya anak orang kaya seperti dia. Namun kendalanya justru ada pada keluarganya. Mereka belum tahu perihal perubahan Doni menjadi seperti ini. Kamipun menyarankan agar Doni segera memberitahukan maksud dan keinginannya itu kepada orangtuanya. Aku sempat melihat keraguan pada wajah Doni, tapi entah kenapa. Sepertinya ada yang ia sembunyikan terkait kondisi keluarganya.
Malam hari setelah diskusi panjang kami itu, Doni bicara serius kepada keluarganya. Ini momen jarang terjadi, karena memang ayah Doni sangat jarang di rumah.
“Ma, Pa, Doni boleh minta sesuatu gak pa? ma?” Doni memulai percakapan itu dengan nada yang halus.
“Tentu, bilang aja Don,” jawab sang ayah memberi harapan besar bagi Doni.
“Begini Pa, Doni pengen jalan – jalan ke luar negeri”. Bahasa Doni diplomatis.
“ehmm.. Mau liburan ya? Boleh saja, kita entar sama – sama sekeluarga.” Jawab sang ayah yang kini membuat Doni ragu. Bagaimana mungkin mereka setuju bila dia bilang mau umrah dan ziarah ke makan Rasulullah.
“Sebut aja Don, mau kemana?? Eropa?Amerika? Atau Australia?” Sang ibu memberi pilihan. Tentu membuat Doni tambah bingung. Ia pun mulai putar otak untuk member jawaban yang cerdas.
“Mama sama papa kan sudah pernah semua ke tempat – tempat itu, Doni punya alternatif pilihan ma.. pa..” Lagi, Doni mulai diplomatis
“Kemana itu Don?” sang ayah mulai penasaran.
“Timur tengah Pa!”Jawab Doni dengan yakin.
“Timur tengah?? Kamu mau ajak kita lihat gurun yang panas ya??Atau liat onta?? Jangan ngawur Don!” Jawaban ayahnya bernada sinis.
“Tentu ndak donk pa, banyak yang bisa kita liat pa. Kita bisa berkunjung ke pusat berkumpulnya umat muslim di masjidil haram dan masjid nabawi. Setelah itu kita bisa ke Dubai, kota eksotis, terus ke Mesir dengan sungai Nil dan pyramid yang indah. Pasti papa dan mama belum pernah kan?? Bosen pa ke eropa atau amerika..apalagi Australia.”Doni mencoba meyakinkan orang tuanya. Ia tak mau orangtuanya tahu maksud ia sebenarnya.
“Sepertinya menarik tu pa..!” Ibu Doni nampaknya mulai terpengaruh.
“Ehm, boleh juga ide kamu Don, semua tempat sudah kita kunjungi, tapi timur tengah belum. Boleh juga tu. Pengalaman baru.” Jawab sang ayah membuat wajah Doni mengembang.
“Kalau begitu bagaimana pa?” Tanya Doni memastikan.
“OK, dua pekan lagi kita berangkat. Siap – siap aja, biar papa yang urus passport nya.” Kini sang ayah yang terlihat lebih bersemangat.
“Papa sama mama masih ingat cara sholat kahn?” Tanya Doni setengah bercanda.
“Ya masih lah Don. Emangnya kenapa?” Tanya sang ayah.
“Kita kahn mau mengunjungi negeri – negeri muslim, malu dong pa kalo ntar kita nggak bisa pas kita di mekkah dan madinah. ” jawab Doni menjelaskan dengan pelan, tanpa menggurui. Setelah itu Doni berpura – pura meminta ajari Sholat kepada ayah danb Ibunya. Padahal niat Doni adalah hanya mengingatkan kembali kepada ayah – ayahnya tentang bacaan sholat dan gerakannya yang mungkin saja sudah lupa. Menurut cerita dari ayahnya, sang ayah terakhir sholat ketika SMA, sang ibu juga demikian.
Singkat cerita, perjalanan panjang telah dimulai dan merekaa sudah ada di Masjidil Haram. Tempat suci umat Muslim. Pada saat itu bertepatan dengan sholat subuh. Hati Doni bergetar hebat ketika memasuki masjid tersebut. Orang tuanya masih biasa – biasa saja. Doni segera menempati shoff untuk sholat demikian ayah dan Ibunya. Ayah Doni berada tepat di samping Doni sedangkan Ibunya berada di Shof bersama Shof khusus wanita agak di belakang. Hati Doni menjadi bergetar hebat ketika takbir imam berkumandang. Ia merasa mimpi itu menjadi kenyataan. Tanpa ia sadar air mata meleleh. Menganak sungai membasahi pipinya. Hati semakin bergetar mendengar lantunan ayat – ayat Al Qur an di tempat yang begitu dekat dengan ka’bah. Tangispun pecah. Tanda haru. Tanda syukur. Tanda khusyuk. Tanda keberpasrahan total kepada Tuhannya. Tanda taubat yang sempurna atas dosa – dosanya. Nampaknya hal itu juga terjadi pada sang ayah. Tiba – tiba saja air mata sang ayah juga mengalir, tangispun pecah antara ayah dan anak dalam lantunan ayat – ayat Al qur an yang dibaca oleh sang imam. Doni berharap, sang Ibu juga demikian. Selesai sholat dan keluarga itu berkumpul, terlihat mereka saling peluk dan menangis. Merasakan hidayah yang luarbiasa yang diberikan oleh Allah kepada satu keluarga ini. Di bawah naungan Ka’bah.
Pagi harinya keluarga ini melanjutkan ke Masjid Nabawi untuk ziarah ke makam Rasulullah. Sepertinya kerinduan Doni sudah mencapai puncaknya. Sehingga ketika sampai di masjid Nabawi, lagi – lagi ia tak kuasa menahan air matanya. Di masjid itu, ia habiskan tangis kerinduannya kepada sang rasul. Di masjid ini ia tumpahkan seluruh cinta dan rasanya pada sang Rasul. Walaupun tidak bertemu secara fisik dengan sang Rasul, serasa di masjid ini ia bertemu dengan sang Nabi dan sang Nabi seolah berkata padanya, “ahlan wa sahlan di masjidku wahai orang yang merindukanku”. Doni makin larut dalam tangisnya.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Goresan pena

Kabar berita

Harokatuna