Akhir pekan di bis kota selalu bercerita tentang cerita keramaian. Penuh sesak. Selalu begitu. Selalu saja aku harus berdiri. Termasuk akhir pekan ini ketika aku harus pulang ke kempung halaman setelah beberapa bulan bergelut dengan kehidupan kota tempat kuliahku. Malang – Lamongan tentu bukan jarak yang dekat jika harus dilalui dengan berdiri di bis. Panas. Melelahkan. Berdesakan. Tapi bukan menjadi hal yang baru bagiku. Sudah terbiasa. Sudah tak terasa bahkan. Berdiriku tak ingin kusiakan dengan kelelahan – kelelahan semata. Biasanya aku membawa mp4 yang siap menemani perjalanan panjangku yang melelahkan.
Setelah setengah perjalanan, bis berhenti di salah satu terminal untuk istirahat sopir dan kondekturnya. Di sana juga banyak penumpang yang turun. Sebagian turun. Aku pun mendapat tempat duduk tepat di seberang kursi seorang akhwat yang menjadi mahasiswa salah satu kampus di Malang. Wajahnya terlihat tampak lelah. Lusuh. Berkeringat. Ditambah jilbab lebarnya yang membungkus sang akhwat membuatnya persis seperti pepesan akhwat (maaf ukh.. ^_^v). Udara siang itu memang sangat panas. Dalam dudukku yang nyaman akhirnya kembali ku nikmati alunan murattal melalui mp4 yang kudengarkan. Lama bis itu berhenti. Penjual asongan silih berganti menjajakan jualannya keluar masuk bis. Disusul oleh para penyanyi jalanan yang silih berganti melantunkan lagu – lagu andalan mereka masing – masing. Tidak terlalu terdengar olehku. Masih kalah dengan mp4 yang sengaja agak aku keraskan.
Lima belas menit sudah bis berhenti namun belum ada tanda – tanda untuk bergerak. Ketika para pengamen dan pedagang asongan sudah turun, tiba – tiba mataku tertuju pada seorang anak kecil yang masuk bis. Kira – kira seusia anak kelas 3 SD. Wajahnya lusuh. Kulitnya agak hitam. Mengayun gitar mungil lusuhnya. Seketika aku tahu bahwa dia adalah penyanyi jalanan juga. Penyanyi cilik jalanan tepatnya. Aku melepas headset dari telingaku untuk mendengar lantunan lagu dari penyanyi cilik jalanan itu. Pertama ia melantunkan lagu – lagu religi dari UNGU, kemudian lagu OPIC, yang terakhir ia melantunkan lagu SNADA. Akhirnya aku menyebutnya Penyanyi Cilik Religi Jalanan. Lumayan menghibur. Dan sempat membuatku terheran – heran.
Di akhir pertunjukannya ada episode yang menarik. Seorang akhwat yang duduk di seberang kursi tidak sengaja menjatuhkan uang logam Rp.500 dan menggelinding hingga ke bawah anak itu. Seketika ia melihat. Mengambil. Dan mengembalikan kepada sang akhwat. Sang akhwat terdiam seketika. Begitu juga saya. Begitu juga para penumpang yang lain. Sang akhwat mengambil uang itu dan menggantinya dengan uang kertas Rp.10.000,- lalu diberikan kepada sang anak. Sang anak yang sekarang terdiam. Dalam diamnya terpancar cahaya kesenangan yang luar biasa. Di balik wajah lusuhnya. Di balik keringat – keringatnya. Di balik kepolosannya dan keluguannya. Dalam diamnya ia bercerita kepada kami tentang cerita kejujuran yang luarbiasa.
Cerita menariknya tidak sampai disitu saja. Aku melihat ia membeli koran dari penjual koran yang kebetulan juga menjajakan koran di dalam bis. Kami menjadi terheran. Untuk apa ia membeli koran. Saya rasa anak seusianya juga belum bisa membaca. Kalaupun sudah bisa saya rasa ‘berita’ belum menjadi sesuatu yang disukainnya. Sang akhwat yang berada di dekatnya kulihat ia bertanya, “untuk apa dek korannya??”. Sang anak itu menjawab, “ini bukan untuk saya kak, ini untuk kakak saya.” Tidak puas dengan jawabannya, sang akhwat bertanya lagi, “Kenapa adek belikan, kan kakak adek bisa beli sendiri??”. “Kakak baru saja lulus kuliah, katanya dia butuh banyak informasi lowongan kerja, setiap hari saya pulang mengamen selalu membawa koran untuk kakak. Biar kakak segera dapat kerja. Kata kakak, kalau dia sudah bekerja, saya mau disekolahkan lagi. Saya pingin sekolah lagi kak!!”
Mendengar jawaban itu aku lihat air mata sang akhwat tiba – tiba mengalir. Hatikupun bergetar menyaksikan episode percakapan dau manusia di atas bis tersebut. Aku hanya terdiam. Pandanganku tertuju pada sang anak dengan keluguannya yang berhasil manambat hati – hati kami. Subhanallah.. subhanallah.. hanya itu yang sanggup terucap dalam lisanku. Kulihat penumpang lain juga terdiam menyaksikan sang anak tersebut. Setelah itu kulihat semua penumpang memberikan uangnya masing – masing pada sang anak. Dengan jumlah beragam. Dengan polosnya sang anak tersenyum kemudia berucap, “terimasih semuanya, doakan agar kakak segera dapat kerja, biar aku bisa skolah lagi”. Hatiku benar – benar bergetar setelah melihatnya. Penyanyi Religi Cilik Jalanan.
Minggu, 17 Oktober 2010
Hatiku Bergetar Setelah Melihatnya
13.25
Thoriq Ad Daawiy


0 komentar:
Posting Komentar