Maha suci bagi Allah yang mengangkat derajat bagi orang – orang yang Ia kehendaki dan menjatuhkan derajat bagi orang yang Ia kehendaki. Syukur Alhamdulillah saya sampaikan kepada Allah atas nikmat indonesia yang luar biasa besar dan kaya. Saya selalu berdoa di setiap sujud saya, untuk anda para pemimpin indonesai agar Allah senantiasa memberi kekuatan kepada anda dalam memimpin indonesia yang luar biasa besar dan kaya ini, semoga anda bisa memimpin kami dengan adil. Agar anda bisa menyejahterakan kami dengan kesejahteraan yang hakiki. Saya juga senantiasa berdoa agar Allah memudahkan anda pada saat sidang pertanggungjawaban di depan Allah SWT tentang kepemimpinan anda kelak di yaumil hisab.. Amin..
Maha suci Allah yang telah mengutus Rasulullah saw sebagai rasul sekaligus teladan kepemimpinan bagi seluruh umat manusia. Yang membimbing dengan ketauladanannya bagaimana menjadi seorang mukmin sejati. Dialah tauladan pemimpin sejati. Saya juga berdoa kepada Allah agar Allah senantiasa memberikan Taufiq kepada anda agar bisa meneladani Rasulullah saw dan khulafaur rasyidin1 dalam memimpin bangsa ini. Allaahumma sholli ala muhammad. Wa ‘ala aali muhammad.
Terima kasih saya ucapkan kepada anda yang telah bersedia membaca surat ini dari salah seorang rakyat anda yang selalu mencintai anda. Sebagai bentuk rasa cinta saya pada anda wahai para pemimpin bangsa, maka kutulis surat ini. Ini bukan surat tuntutan. Ini bukan surat aduan. Ini bukan surat cacian. Ini juga bukan surat permohonan. Sekali lagi ini adalah surat cinta!! Senyum itu tanda cinta. Dan surat ini berisi berjuta senyum untuk anda. Pujian itu tanda cinta. Dan surat ini berisi sepenggal pujian untuk anda. Nasehat itu tanda cinta. Dan surat ini berisi nasehat untuk anda. Marah itu cinta. Dan surat ini berisi seutas marah untuk anda. Semuanya atas dasar cinta dan kasih sanyang saya kepada anda. Di awal surat ini saya ingin ungkapkan, “uhibbukum fillah2”
Surat ini untuk anda wahai Bapak Presiden, untuk anda wahai para Menteri, untuk anda wahai wakil rakyat di DPR, untuk anda wahai penegak hukum, untuk anda para pejabat pemerintahan dari pusat sampai daerah. Ini surat dari saya yang mencintai anda di tengah – tengah masyarakat yang mulai membenci anda. Ini surat tanda cinta dari saya yang peduli di tengah rakyat anda yang mulai acuh. Atas dasar cinta, kutilis surat ini.
Bismillahirrahmanirrahim
Kumulai surat ini dengan menyebut nama Allah, Tuhan ku dan Tuhan anda. Sekedar sebagai pengingat bahwa kita menyembah Tuhan yang sama. DihadapanNya kita sama. Jabatan tak menjadi pembeda diantara kita dihadapanNya. Hanya ketaqwaan yang membedakan kita. Siapa yang paling BERTAQWA, ialah yang paling mulia di sisiNya. Saya berharap ketika anda membaca surat ini, anda dalam keadaan bertaqwa kepada Allah dengan ketaqwaan yang murni.
Wahai para pemimpin negeri yang saya cintai!!!
Kami rakyat sebenarnya senang dengan perkembangan politik dan demokratisasi di negeri ini. Penghargaan bagi anda para pemimpin yang telah membuka dengan lebar kran – kran demokrasi di negeri ini setelah sebelumnya kami hidup dalam keterkekangan politik. Namun anda menyederai demokrasi yang sedang kita bangun. Sampai – sampai kami bosan dengan parodi politik anda di eksekutif maupun di legislatif yang setiap hari anda pertontonkan kepada kami. Apakah anda mau mengajarkan kami untuk menjadi rakyat yang berwajah dua? Apakah anda mau mengajarkan rakyat anda sebagai penipu? Apakah anda mau mengajarkan rakyat anda untuk saling tengkar? Anda tak sedikitpun mengajarkan kami untuk berakhlak yang baik. Apa lagi mengajarkan kami tentang keadilan.
Yang saya ketahui, anda sudah tidak lagi menyuarakan suara kami. Anda wakil rakyat! Juga anda presiden dan menteri - menterinya! Anda lebih suka menyuarakan kepentingan anda sendiri. Atau kepentingan pihak yang menguntungkan pribadi sendiri. Dari perilaku anda yang setiap hari kami lihat di TV mencerminkan perilaku yang jauh dari janji saat kampanye dulu. Sebagian kami menyesal. Kami memohon ampun kepada Allah semoga kami tidak menanggung dosa dari apa yang anda kerjakan karena kamilah yang memilih anda. Sebagai bentuk pertanggungjawaban kami, maka kami menyerukan kebenaran kepada anda wahai wakil kami, wahai pelayan kami (pemimpin adalah pelayan rakyat)!! Bagi kami, ini adalah jihad terbesar, menyuarakan kebenaran dihadapan penguasa yang dzolim (al hadits).
Setiap keputusan – keputusan yang anda ambil melalui sandiwara – sandiwara di sidang – sidang wakil rakyat sarat kepentingan individu anda. Seolah anda pada saat itu memikirkan diri sendiri, mana yang menguntungkan bagi anda. Seolah kami tidak ada. Seolah kami tidak menonton anda. Anda harus ingat, apapun yang nada lakukan, rakyat sekarang sudah bisa melihat dengan jelas. Tentu Allah yang lebih detail penglihatannya sampai pada yang tersembunyi. Dalam hatipun Allah tetap melihat. Kami serahkan itu pada Allah apa yang kami tidak ketahui. Kami hanya menilai anda melalui apa yang kami lihat.
Sikap hidup mewah dan menganggarkan dana rakyat untuk memperkaya diri anda adalah suatu yang melukai hati kami. Di tengah kondisi kami yang serba berkesusahan, tolong, jangan jadikan kami naik pitam dengan kegiatan menghambur – hamburkan uang rakyat melalui kegiatan anda yang tidak penting. Kami ikhlas uang kami anda pergunakan. Kami rela. Yang kami tidak rela, uang kami anda pergunakan yang tidak penting dan tidak ada hubungannya dengan kami. Selain itu, berita – berita yang mengabarkan anda korupsi di sana – sini membuat kami sakit. Sakit. Bahkan marah. Seandainya rakyat punya hukum, kami akan menhukumi anda dengan hukum kami sendiri: MATI. Kami hampir sudah tak percaya penegak hukum. Hukum di negeri ini bisa anda jual belikan. UU dan hukum bisa anda buat sesuka hati anda dan sesuai kebutuhan anda. Saya hanya ingin mengingatkan azab Allah yang pedih bagi anda yang memakan harta rakyat dengan jalan yang dzolim.
Partai – partai politik yang diklaim sebagai penyalur aspirasi rakyat tak sedikitpun aspirasi kami yang disuarakan. Mereka lebih suka berebut jabatan untuk kepentingan pribadi masing – masing. Kami merasa ditipu, kami merasa di bohongi. Tolong wahai para elit partai!! Kami memang pragmatis. Kami memang mudah memberikan suara hanya dengan uang yang tak seberapa. Tapi tolong..!! suara kami. Sampaikan dengan lantang!! Jika kondisi seperti ini berlangsung terus. Yang saya khawatir pemilu akan musnah menjadi sejarah karena tak ada laggi rakyat yang berpartisipasi. Saat ini kami sudah mulai cerdas. Kami sudah bisa melihat mana yang benar – benar membela kami.
Walaupun demikian, kami berterima kasih pada partai – partai politik yang ada di negeri ini yang telah mencerdaskan kami rakyat kecil akan politik. Terima kasih telah membuka mata kami. Tapi sayang bukan melalui sekolah – sekolah politik anda, bukan melalui seminar – seminar anda, bukan melalui pengajaran – pengajaran anda. Kami semakin tahu hakikat politik dari tingkah laku anda di DPR, kami tahu praktek politik dari apa yang anda lakukan di pemerintahan negeri ini. Sayang seribu sayang. Pengetahuan tentang politik itu tidak malah menjadikan kami semakin aktif dalam berpolitik, bukan malah semakin mencintai politik. Pelajaran politik dari anda semua membuat sebagian besar kami malah antipati pada politik dan menjauh dari kehidupan berpolitik.
Wahai para penegak hukum negeri ini!!
Kami memang tak paham masalah hukum. Namun bukan berarti kami tidak bisa menilai apa yang anda lakukan pada hukum di negeri ini. Sungguh mudahnya keputusan berubah hanya karena tumpukan uang yang tak seberapa. Kami bisa melihat berapa ‘harga diri’ anda dari berapa besar orang membeli keadilan dalam jiwa anda. Sehingga, kini keadilan itu memihak kepada siapa yang bayar, bukan siapa yang benar.
Apresiasi besar atas penegakan hukum untuk prestasinya mengungkap kasus – kasus besar negeri ini kemarin berganti menjadi kekecewaan besar atas terungkapnya mafia hukum dan peradilan. Pengadilan bak pasar tempat tawar menawar hukum. Jaksa dan hakim seperti pedagang yang menjual keadilan. Kami malu. Malu. Sedih. Sangat prihatin. Bagaimana kami percaya lagi pada anda? Jangan salahkan jika ada maling yang mati dihakimi massa. Jangan salahkan ada prampok yang tewas di hadapan hukum rimba masyarakat. Peristiwa itu bukan menandakan masyarakat bodoh akan hukum. Mungkin itu akibat semakin cerdasnya masyarakat setelah melihat hukum yang anda tegakkan di negeri ini.
Kami menghimbau pada anda penegak hukum, tolong tegakkan hukum ini dengan adil. Tunjukkan bahwa hukum memandang sama semua warga negara senagai mana amanah UUD 1945. Tidak ada yang membedakan antara si kaya dan si miskin. Si pejabat dan rakyat. Jangan mudah terbeli dengan kekayaan dunia yang melenakan. Tidak bahagiakah anda dengan balasan bagi penegak hukum yang adil yang telah Allah janjikan kepada anda??
(bersambung.. insya Allah)
(Dody Arief Krisnawan)
Sabtu, 16 Oktober 2010
Surat Untuk Para Pemimpin Negeri Ini (1)
16.38
Thoriq Ad Daawiy


0 komentar:
Posting Komentar