Sabtu, 16 Oktober 2010

Ya Rabb, Jadikan aku hamba-Mu yang beriman

Tiba – tiba aku ada. Ruh yang sebelumnya tiada ini diadakan oleh Dzat yang Maha Ada. Di alam ruh inilah aku hidup dalam keindahan. Ketenangan. Kesenangan. Kenyamanan. Hingga suatu saat Tuhan mengabarkan bahwa sudah saatnya aku harus diturunkan ke alam dunia. Dunia. Nama yang begitu asing dan belum pernah ku dengar sebelumnya. Apakah ia seindah dan senikmat alam ruh yang saat ini aku tinggali? Ataukah sebaliknya? Rasa penasaran yang memuncak akhirnya mengantarkanku menemui Rabb Yang Maha Agung. Aku menanyakan kepadaNya perihal alam raya yang bakal menjadi tempat tinggal baruku. Kemudian dengan Kasih SayangNya Ia membukakan tabir dan memperlihatkan adegan demi adegan yang terjadi di alam dunia kepadaku.

Aku melihat julangan gunung yang megah lagi gagah. Terlukis dengan indah. Dari kejauhan nampak biru. Tenang. Tanpa beban. Diam. Tanpa ada terpaan kesulitan kehidupan yang datang. Sepertinya penuh dengan ketenangan. Dalam hatiku berkata, “sungguh nikmatnya jika Allah menurunkan aku ke dunia sebagai julangan gunung itu”. Namun setelah beberapa saat aku melihat sang gunung marah. Memerah. Merekah. Menggelegar. Dahsyat. Mematikan. Merusak sekitarnya. Membumi-hanguskan apapun yang ada di sekelilingnya. Seketika aku takut. Kemudian ku katakan kepada Tuhan, “wahai Tuhan, jangan Kau turunkan aku sebagai gunung yang berbuat kerusakan di bumi..”

Setelah itu aku menyaksikan anggota alam raya yang lain. Kali ini aku melihat hamparan laut yang membiru. Tidak setenang gunung. Ia senantiasa bergejolak. Bergemuruh. Mengalir. Memecah batuan pantai. Namun semua terlukis dengan keindahan dan keindahan. Semua tergambar dengan kenyamanan dan kenyamanan. Membuat tenang dan senang siapapun yang datang dan menyaksikan hamparan lautan itu. Dalam hatiku berkata, “sungguh nikmatnya jika Allah menjadikan aku sebagai lautan”. Namun setelah beberapa saat aku melihat ia marah dengan kemarahan yang besar. Gerakan ombak raksasa menyapu sekelilingnya dengan brutal. Menghabisi. Merusak. Menenggelamkan. Membubuh. Menghanyutkan. Apapun yang ada di sekitarnya seketika habis dengan sapuan sekejap saja. Akupun seketika takut. Kemudian aku berkata kepada Tuhan, “wahai Tuhan, jangan Kau turunkan aku sebagai laut yang berbuat kerusakan di muka bumi!!”

Kemudian aku menatap langit. Indah dan cerah. Sama indahnya dan sama birunya dengan laut. Tapi ia terlihat lebih tenang. Tiada gemuruh. Tanpa gerakan. Sunyi dari aliran dan pergerakan. Yang ada hanya ketenangan. Sepertinya tidak akan ada kerusakan yang ia timbulkan dengan ketenangannya. Ia tampak pendiam. Dalam hatiku terbersit, “mungkin aku minta menjadi langit saja, sepertinya lebih tenang dan tak ada kerusakan yang akan ia timbulkan”. Namun setelah beberapa saat tiba – tiba datanglah pasukan langit hitam – hitam pekat. Menutup birunya biru. Yang tampak kemudian hanyalah hitam. Gelap. Gemuruh mulai terdengar menggelegar. Bahkan gemuruhnya lebih tajam dari gemuruh lautan dan gemuruh gunung. Keras. Menyambar. Kemudian ia memuntahkan air dengan lebatnya. Ternyata dalam diamnya ia menyimpan potensi merusak yang dahsyat. Seketika ia menenggelamkan apapaun yang ada di bawahnya. Menghanyutkan. Merusak. Membunuh. Kemudian aku katakan kepada tuhan, “Wahai Tuhan, aku tidak ingin menjadi langit yang mengeluarkan air perusak alam!!”

Setelah menyaksikan fenomena tingkah laku anggota alam raya yang laur biasa tersebut, kukatakan pada Tuhan, “Wahai Tuhan Yang Maha Agung, tidakkah Engkau mau menangguhkan aku untuk turun ke dunia? Biarkan aku hidup disini saja. Hidup yang penuh ketenangan.”

“Wahai Ruh, tempatmu di dunia..!!” tegas Tuhan kepadaku.
“Kulihat sedari tadi semua makhluk yang ada di dunia hanya berbuat kerusakan dan kerusakan. Aku ingin menjadi makhlukMu yang selalu membawa kebaikan bagi seluruh alam”. Jawabku.
“Kamu akan aku tiupkan ke jasad manusia. Engkau nantinya akan menjadi makhluk bernama manusia.” Firman Tuhan padaku.

Kemudian Tuhan kembali membuka tabir dan memperlihatkan kepadaku makhlukNya yang bernama manusia. Kulihat ia lebih kecil daripada makhluk yang sebelum ku saksikan. Ku lihat ia berjalan. Berlari. Duduk. Tidur. Terawa. Menangis. Bergurau. Bicara. Diam. Berteriak. Sungguh makhluk yang unik menurutku. Seketika aku tertarik. Makhluk sekecil ini tidak mungkin membuat kerusakan sebesar dan sedahsyat nmakhluk – makhluk besar yang ku saksikan sebelumnya. Dan itu membuatku tenang dan nyaman untuk segera berwujud sebagai makhluk baru bernama manusia. Sampai beberapa saat kemudian aku melihat makhluk kecil bernama manusia ini saling membunuh satu sama lain. Saling berperang. Menebar ketakutan. Merusak tatanan alam hingga keseimbangannya alam raya terganggu. Lalu datanglah bencana – bencana alam dan bencana – bencana kemanusiaan. Lebih dahsyat. Aku terheran – heran. Dalam kecilnya ia menyimpan kekuatan dahsyat untuk merusak dan membinasakan alam. Seketika aku katakan kepada Tuhan, “wahai Tuhan, aku tidak ingin menjadi manusia, lebih baik Engkau turunkan aku sebagai gunung, langit atau lautan saja. Ternyata makhlukMu yang bernama manusia lebih besar potensi merusaknya.”

Tuhan diam tak menjawab. Sementara aku masih dalam keraguan dan ketakutan yang kuat. Ia menyibak lagi tirai dan memeprlihatkan lagi alam dunia kepadaku. Beberapa jenak kemudian aku melihat manusia – manusia yang berbeda dari sebelumnya. Sama kecilnya. Sama sifat – sifat fisiknya. Namun mereka berbeda sama sekali perbuatan dan tingkah lakunya. Kulihat mereka bersujud. Ku lihat mereka bertasbih. Kulihat mereka saling bantu satu sama lain. Ku lihat mereka memakmurkan bumi dengan baik. Ku lihat mereka menebarkan keselamatan dimanapun mereka berada. Ku lihat kebaikan dan kebaikan yang terpancar dari wajah – wajah mereka. Dan itu mengikis habis keraguan – keraguan ku.

“Mereka itu siapa ya Rabb??” tanyaku kepada Tuhan.
“Mereka adalah hamba – hambaKu yang beriman.” Jawab Tuhan.
“Ya Rabb, aku ingin aku engkau turunkan sebagai manusia yang beriman kepadaMu” Pintaku pada Tuhan.
“Bersumpahlah bahwa engkau akan taat kepadaku. Dan saksikanlah bahwa tiada Tuhan selain Aku!!” Tuhan mengambil kesaksian padaku.
“balaa Syahidna... Saya bersumpah dengan keMaha Sempuraan Dzat Mu, aku akan beriman kepada Mu dan tidak menyekutukan Mu dengan sesuatu apapun.”

Itulah saat – saat terakhir aku bersama Rabb-ku di alam Ruh. Kemudian Ia meniupkan aku ke jasad manusia di dalam rahim. Itulah alam transisi menuju alam dunia. Aku semakin tidak sabar untuk segera lahir kedunia. Bertemu dengan orang – orang beriman. Bersama – sama dengan mereka dalam ketaatan kepada Rabb Semesat alam. Menebar keselamatan dan rahmat. Memimpin dunia ini dan mengelola dunia ini dengan sentuhan nilai – nilai Rabbani. Karena yang ku ingat, Tuhan menitipkan bumi dan seluruh alam ini kepada kami manusia – manusia yang beriman. Maka tidak akan kami serahkan kepemimpinan dunia ini kepada orang – orang yang berbuat kerusakan!! Dengan lantang akan kami katakan, “Kami akan memimpin Dunia!!!”

(Dody Arief Krisnawan)

0 komentar:

Posting Komentar

 

Goresan pena

Kabar berita

Harokatuna