Ia berlari terus seolah tiada pernah lelah. Sesekali ia melompat. Sesekali ia berguling – guling. Sesekali ia mengambil mobil – mobilannya kemudia ia bawa berputar – butar. Bergerak. Terus bergerak. Sepertinya ia sedang asyik dengan dunianya. Dari jauh seorang wanita melihat dengan seksama. Memperhatikan seorang anak yang sedang mengembangkan imajenasinya. Sesekali wanita itu ikut tertawa. Tersenyum. Sesekali ia melamun. Kadang ia memperingatkan anak itu agar bermain lebih hati – hati. Perasaan cinta wanita itu benar – benar terpancar dari matanya. Seperti cinta ibu kepada anaknya. Sayangnya, wanita itu bukan ibunya. Ia hanya pembantu di rumah tersebut. Ia yang bertugas mengasuh anak majikannya setiap harinya. Sementara ibu dan ayah anak itu sibuk dengan pekerjaannya masing – masing. Sepanjang hari. Sepanjang minggu. Mereka berangkat sebelum sang buah hati terbangun. Malamnya baru datang saat sang anak sudah tertidur. Sehingga tanggungjawab mengasuh anak ia percayakan sepenuhnya kepada pembantunya.
Hari minggu adala hari yang paling paling membahagiakan bagi anak itu karena hanya pada hari minggulah mereka bisa berkumpul selayaknya keluarga. Selama satu hari penuh biasanya mereka habiskan untuk jalan – jalan bersama. Sepertinya, anak itu merasakan punya orang tua hanya sehari dalam seminggu. Hanya pada hari minggu. Di hari – hari berikutnya, mereka harus kembali pada rutinitasnya masing – masing: Orang tua sibuk dengan pekerjaannya. Sang anak sibuk dengan kesendiriannya.
Suatu saat sang anak punya permainan baru: menggambar. Imajenasinya melayang bebas tanpa batas. Ia menggambar apapun yang ada dalam pikirannya. Hari itu berlembar – lembar buku ia habiskan. Sang pembantu hanya diam. Tapi terlihat senang. Sementara sang anak sedang sibuk dengan permainannya yang sepertinya menyenangkan. Melihat sang anak sedang asyik dan tenang, hening tidak ada keributan, tidak ada aktivitas permainan yang mengkhawatirkan, dalam lelahannya sang pembantu tidur di samping anak yang sedang asyik menggambar.
Anak itu telah merampungkan gambarnya di halaman terakhir buku gambar yang baru saja di belikan oleh sang pembantu. Anak itu bingung harus menggambar di mana. Sementara hasrat menggambarnya masih tinggi. Akhirnya ia menemukan media putih besar untuk menggambar: dinding rumah. Ide besar pun muncul. Kalau sebelumnya ia hanya menggambar di buku kecil, ia berencana untuk membuat sebuah karya besar di buku gambar besar yang sedang terhampar di hadapannya. Tanpa pengawasan siapapun ia mulai menumpahkan imajenasinya di dinding rumah. Ia gambar rumah. Pepohonan. Ia gambar ayahnya. Kemudian ibunya. Kemudian ia gambar dirinya sendiri diantara keduanya. Walaupun berupa gores dan coretan, benar – benar menggambarkan impian yang besar dari sang anak yang lahir dari kerinduan yang besar kepada suasana kasih sayang dan kebersamaan.
Karya besar telah diselesaikan. Walaupun gambar tidak terlalu jelas, yang jelas dinding rumah telah berisi coretan – coretan pensil warna di sana – sini. Ia tertawa kegirangan. Melompat – lompat. Berlari – lari. Membangunkan sang pembantu seolah ia ingin memberitahukan hasil karya barunya. Seketika sang pembantu bangun diam tak berkata – kata melihat dinding rumah yang ada di depannya. Melihat dengan tatapan tak percaya. Kekhawatiran dan ketakutan seketika muncul kalau majikannya sampai mengetahui apa yang dilakukan anaknya. Tentu ia yang akan dimarahi. Ia dianggap tidak bisa menjaga anak dengan baik. Tidak bisa merawat rumah dengan baik. Dalam benaknya ia menyangka inilah akhir riwayatnya bekerja di rumah itu sebagai pembantu.
Akhirnya malam yang dinantikan tiba. Malam di saat sang majikan datang. Sang anak juga tidak mau tidur, ia menunggu orang tuanya untuk memberitahukan karya besarnya kepada mereka. Begitu mendengar bel berbunyi sang anak berlari menuju pintu untuk menyambut orang tuanya. Melihat sang anak yang membuka pintu mereka berdua pun kaget. Seketika memeluk dan menggendongnya.
“adek kok belum tiduurr..??” ujar sang ayah sambil menggendong sang anak.
“adek uda bica gambar lho yah..” ucap sang anak dengan bangga.
“wah.. hebat adek.. mana ayah mau lihat”
“ayo kecana yah...”
Bukan buku gambar yang diberikan anak itu. Ia memberikan buku gambar raksasa berupa dinding rumah yang penuh dengan coretan dan gambar. Seketika sang ayah naik darah. Marah. Membentak. Menjewer. Anakpun seketika kaget dengan sikap ayahnya yang jauh dari apa yang ia perkirakan. Iapun menangis. Sekeras yang ia bisa. Untuk memberi pelajaran sang ayah memukul tangan anaknya dengan penggaris. Lalu ia mengambil bunga mawar di vas bunga dan memukul mukulkan pada tangan anaknya. Tangan sang anak mulai lecet. Merah. Dan sedikit mengeluarkan darah karena duri – duri mawar. Sang ibu hanya diam seolah membenarkan apa yang dikerjakan sang ayah.
“cukup tuan.. cukup..” sang pembantu yang tidak tega melihat kejadian itu mencoba menghentikan tindakan majikannya. Ia memeluk sang anak. Mencium. Dan mengusap tangan dengan kain baju untuk menghilangkan darahnya. Air mata mereka berdua terus keluar. Sementera sang orang tua berlalu dan meninggalkan mereka berdua.
Suatu hari...
“Tuan...tuan.. Ade sakit.. badannya panas” sang pembantu panik menelpon majikannya yang sedang bekerja.
“Beli aja obat penurun panas di warung.. nanti juga reda panasnya..”
Sehari. Dua hari. Tiga hari. Panas tak kunjung turun. Malah semakin panas. Tangannya juga bengkak. Akhirnya sang pembantu berinisiatif membawa sang anak ke rumah sakit. Akhirnya sang anak harus dirawat di rumah sakit. Badannya panas tinggi. Sedang tangannya bengkak dan membesar. Dengan keadaan seperti itu kedua orang tuanya hanya bisa menangis menyesali apa yang mereka lakukan.
Doker memanggil kedua orang tuanya untuk menemuinya di ruangannya.
“Tangan anak anda harus diamputasi. Terjadi infeksi luka serius karena terlambat ditangani dan diobati. Kalau tidak, luka akan semakin menjalan ke bagian yang lain..”
Seolah disambar petir. Seolah lepas semua tulang. Lemas. Tak berdaya. Sang ibu menangis dengan keras. Sang ayah hanya melamun. Menyesal. Sangat menyesal. Kemudian menagis dengan dalamnya. Akhirnya mereka merelakan tangan anknya diamputasi demi menyelamatkan nyawanya. Tak bisa dibayangkan perasaan sedih dan bersalah yang berkecamuk di hati kedua orang tua tersebut, anak kesayangannya akan kehilangan tangan karena kesalahannya. Karena teralu menuruti amarahnya.
Suatu pagi...
Sang anak bangun dari tidunnya. Sementara ayah dan ibu serta pembantunya berada di dekat ranjangnya di rumah sakit. Setelah sadar ia kehilangan tangannya,
“ayah.. mama.. tangan ade jangan diambil.. ade janji tidak nakal lagi.. ade gak mau gambar lagi.. ade mau jadi anak baik.. ade mau nurut kata ayah ma ibu.. haaaa.. kembalikan tangan ade.. kembalikan maa.. yah... kembalikan” tangis sang anak makin keras. Menusuk hati. Semua menangis. Termasuk suster dan dokter yang ada di ruangan itu. Termasuk orang – orang yang menyaksikan episode itu. Termasuk langit yang saat itu menurunkan air matanya dengan deras. Deras sekali.
Jumat, 15 Oktober 2010
Yah..Kembalikan Tangan ku
12.47
Thoriq Ad Daawiy


3 komentar:
Nice writing! :D
tega juga sang ayah?
emg tuh anak usia brp yah?
laki ato prempuan?
nah coba di dlm cerpen dideskripsikan lebih jelas ttg si anak sbg tokoh utamanya.
*pesan dari penggemar cerpen*
salut akh, ini sudah & sngt bagus meski tanpa deskripsi ttg nama sang anak,atau nama dr tokoh2 yg terlibat didalamnya. krn itu bisa jadi akn mengaburkan alur cerita yg sngt menyentuh didalamnya.. ceritanya mengharukan sekali, bgtu nmenyentuh, apalagi pas kalimat terakhir; "Termasuk langit yang saat itu menurunkan air matanya dengan deras. Deras sekali." ...
syukran atas masukan - masukan antum semua...
Posting Komentar